KONTAN.CO.ID - Mayoritas saham dan mata uang negara berkembang di Asia menguat pada perdagangan Kamis (20/8/2026). Sentimen pasar membaik setelah imbal hasil US Treasury turun dan dolar AS melemah menyusul langkah pemerintah AS meredakan tekanan di pasar obligasi. Melansir
Reuters, indeks saham negara berkembang Asia MSCI naik 2,3%, dan berada di jalur penguatan harian terbaik sejak 5 Agustus 2026.
Baca Juga: Harga Tembaga Bertahan di Atas US$14.000, Dolar AS Melemah Jadi Penopang Sementara itu, indeks mata uang negara berkembang sempat menguat 0,4% ke level tertinggi sepanjang masa, sebelum memangkas sebagian kenaikannya. Sentimen investor membaik setelah Departemen Keuangan AS pada Rabu (19/8) mengumumkan akan menggandakan nilai pembelian kembali atau
buyback surat utang pemerintah AS bertenor panjang. Langkah tersebut membantu menenangkan pasar obligasi setelah imbal hasil Treasury AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2007 pada awal pekan ini. Penurunan imbal hasil US Treasury umumnya memberikan dukungan bagi aset negara berkembang karena mengurangi tekanan pendanaan sekaligus menurunkan daya tarik investasi berbasis dolar AS. Pelemahan dolar AS juga memberikan ruang bagi mata uang regional Asia untuk menguat. Namun, Wei Li, Head of Multi-Asset Investments BNP Paribas Securities China mengingatkan bahwa penguatan pasar saat ini lebih menyerupai relief rally daripada awal pemulihan yang berkelanjutan. "Sinyal dari Treasury memberikan batas bawah kebijakan yang penting bagi imbal hasil obligasi, tetapi tekanan struktural yang mendasarinya masih belum terselesaikan. Penerbitan utang global yang meningkat, pasokan obligasi korporasi yang didorong AI, dan harga minyak yang tinggi masih mempertahankan risiko inflasi," kata Li.
Baca Juga: Indeks Nikkei Ditutup Menguat Seiring Meredanya Kegelisahan Pasar Obligasi KOSPI dan IHSG Menguat Bursa Korea Selatan memimpin penguatan pasar saham Asia. Indeks KOSPI melonjak 5,9%, didorong kenaikan saham Samsung Electronics sebesar 8,5% dan SK Hynix yang melesat 11,9%. Indeks acuan Taiwan berbalik menguat 0,5% setelah sempat berada di zona merah pada awal perdagangan. Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) naik 1,1%.
Baca Juga: Trump Ancam Jatuhkan Sanksi Ekonomi Negara yang Bantu Iran Di Indonesia, IHSG menguat 1,5%, ditopang saham-saham sektor pertambangan. Penguatan rupiah dan kenaikan harga energi turut mendukung saham berbasis komoditas. Meski demikian, IHSG masih tercatat turun sekitar 25% sepanjang 2026 setelah MSCI melakukan peninjauan terhadap status pasar Indonesia. Menurut Li, rupiah dan ringgit Malaysia mendapatkan keuntungan dari dua katalis sekaligus, yakni pelemahan dolar AS dan kenaikan harga energi akibat ketegangan Iran. "Ringgit dan rupiah mendapatkan
double tailwind: pelemahan dolar ditambah harga energi yang tinggi akibat ketegangan Iran. Dengan demikian, meski pelemahan dolar menjadi katalis yang diperlukan, eksposur komoditas domestik menentukan kekuatan relatif masing-masing mata uang," ujar Li. Bursa Malaysia naik 0,3%, sedangkan ringgit menguat 0,3% menjadi 4,04 ringgit per dolar AS setelah sempat menyentuh level terkuat sejak pertengahan Juni.
Sebaliknya, bursa Singapura turun 0,3%, tertekan saham perbankan OCBC yang melemah 0,7%.
Baca Juga: Rusia Gempur Ukraina dengan Puluhan Rudal dan 168 Drone Di pasar valuta asing, peso Filipina menguat 0,4% dan baht Thailand naik 0,1%. Sementara itu, won Korea Selatan melemah 0,4%, berlawanan dengan mayoritas mata uang regional. Dolar Taiwan juga turun 0,2%. Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada simposium Jackson Hole pekan depan. Pernyataan dari Ketua Federal Reserve AS dapat memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga AS.