KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Selasa (21/7/2026), didorong harapan tercapainya mediasi konflik di Timur Tengah yang menekan harga minyak dari level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Mengutip
Reuters, indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang naik 0,25% setelah sebelumnya mencatat penurunan selama tiga sesi berturut-turut.
Baca Juga: Baht Thailand Melemah Paling Dalam, Mayoritas Mata Uang Asia Bergerak Terbatas Indeks Nikkei Jepang melonjak lebih dari 1%, sementara Kospi Korea Selatan menguat hampir 3%. Penguatan pasar terjadi setelah harga minyak Brent turun 0,38% menjadi US$ 88,88 per barel. Pada sesi sebelumnya, Brent sempat menyentuh US$ 91,42 per barel, level tertinggi sejak pertengahan Juni. Penurunan harga minyak dipicu optimisme pasar terhadap upaya diplomatik di Timur Tengah. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima proposal gencatan senjata selama 10 hari dari para mediator sebagai langkah menuju kesepakatan damai yang lebih permanen. Meski demikian, ketegangan di kawasan masih tinggi. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengumumkan rencana memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi, di tengah berlanjutnya aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. "Saya pikir investor masih berusaha melihat situasi secara optimistis karena mereka pernah menghadapi kondisi serupa beberapa bulan lalu dan berharap hasilnya akan sama," kata Chief Market Strategist ATFX Global, Nick Twidale.
Baca Juga: Korps Garda Revolusi Iran Sebut Dua Tanker Terbakar di Selat Hormuz Namun, menurutnya, kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas di kawasan terus meningkat. "Saya merasa hanya dibutuhkan satu pemicu yang dapat membuat situasi berubah drastis," ujarnya. Investor menanti ujian sektor AI Perhatian investor pekan ini juga tertuju pada musim laporan keuangan emiten, terutama perusahaan teknologi besar seperti Alphabet dan Intel. Laporan keuangan tersebut akan menjadi ujian bagi reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI), setelah valuasi sektor ini melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir. Sebelumnya, kinerja kuat dari produsen chip Asia seperti Samsung Electronics dan TSMC belum mampu memenuhi ekspektasi tinggi investor, menunjukkan bahwa pasar kini menuntut pertumbuhan laba yang semakin besar. "Permintaan terhadap perangkat keras AI memang masih sangat kuat. Namun ekspektasi investor terhadap laba perusahaan juga semakin tinggi sehingga sektor ini rentan terhadap penurunan proyeksi sekecil apa pun," kata Kepala Ekonom Asia HSBC, Fred Neumann. Ia menambahkan bahwa prospek sektor AI juga menghadapi tantangan dari kenaikan harga energi dan suku bunga yang lebih tinggi.
Baca Juga: Usai Skandal Audit, KPMG Australia Percayakan Kursi CEO kepada John Sams Kekhawatiran inflasi kembali muncul Memanasnya konflik AS-Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap inflasi global, yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga Federal Reserve, berada di 4,206% setelah naik 4 basis poin pada sesi sebelumnya.
Pelaku pasar kini memperkirakan total kenaikan suku bunga The Fed sekitar 33 basis poin hingga akhir tahun, dengan kenaikan suku bunga pada Oktober telah sepenuhnya diperhitungkan oleh pasar.
Baca Juga: Samsung Bentuk Divisi Robotika, Rekrut Eks Eksekutif Hyundai untuk Pimpin Strategi Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak stabil terhadap mayoritas mata uang utama karena masih didukung permintaan aset safe haven. Euro diperdagangkan di sekitar US$ 1,14145, sementara dolar AS berada di level 162,51 yen, membuat pelaku pasar tetap mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menopang mata uangnya.