KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Senin (10/8/2026), mengikuti kenaikan Wall Street setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lemah mengurangi kekhawatiran kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, ketidakpastian terkait negosiasi perdamaian di kawasan Teluk mendorong harga minyak kembali naik.
Baca Juga: Kelompok Hacker Korea Utara Kembangkan AI untuk Otomatisasi Serangan Siber Mengutip
Reuters, harga minyak Brent naik 0,9% menjadi US$84,32 per barel, sementara minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,7% menjadi US$78,74 per barel. Kenaikan harga minyak terjadi ketika aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas. Iran pada Minggu (9/8) mengatakan kesepakatan dengan Oman mengenai penetapan jalur pelayaran baru di Selat Hormuz telah memasuki tahap akhir. Namun, Teheran kembali menegaskan bahwa jalur strategis tersebut hanya akan dibuka setelah Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan. Perkembangan harga energi tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap data inflasi AS yang akan dirilis pada Rabu (12/8). Analis memperkirakan, inflasi konsumen AS pada Juli meningkat 0,1% secara bulanan, sedangkan inflasi inti diproyeksikan naik 0,2%. Kenaikan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi kembali memunculkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada September. "Perkiraan kami untuk inflasi inti sebesar 0,22% kemungkinan belum cukup kuat untuk mendorong The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September. Namun, jika angka mendekati 0,3% terjadi berulang kali, hal tersebut dapat memicu kenaikan," kata Michael Feroli, Chief U.S. Economist JPMorgan. Pasar juga mencermati kemungkinan kenaikan harga barang inti setelah sebelumnya mengalami penurunan selama dua bulan berturut-turut.
Baca Juga: Bos Jepang Minta Stabilitas Yen, Pelemahan Mata Uang Picu Tekanan Biaya Impor Bursa Asia Ikuti Wall Street Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September kini menurun. Pasar berjangka memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 44%, turun dari 67% sepekan sebelumnya. Penurunan risiko kenaikan suku bunga tersebut membantu pasar obligasi AS menguat pada Jumat (7/8) dan mendorong Wall Street mencetak rekor penutupan. Pergerakan positif tersebut kemudian diikuti bursa Asia. Indeks Nikkei Jepang naik 0,6%, sementara indeks saham Korea Selatan menguat 0,5%. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga naik tipis 0,3%. Di pasar saham Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing turun 0,1%, sedangkan FTSE futures melemah 0,4%. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,1%, sementara Nasdaq futures relatif datar setelah indeks Nasdaq naik sekitar 5% sepanjang pekan lalu berkat sejumlah laporan kinerja perusahaan yang positif.
Baca Juga: Harga Emas Stabil Setelah Tembus Level Tertinggi 7 Pekan, Investor Pantau Inflasi AS Laba Emiten AS Tumbuh Dua Digit Bank of America mencatat sekitar 90% perusahaan dalam indeks S&P 500 telah melaporkan kinerja keuangan. Tidak termasuk keuntungan investasi Alphabet dan Amazon, laba per saham (EPS) perusahaan tercatat meningkat sekitar 30% secara tahunan. Tingkat perusahaan yang membukukan laba di atas ekspektasi mencapai 76%, setara dengan level terkuat sejak 2021. "AI tetap menjadi sektor yang paling menonjol, dengan pertumbuhan EPS median sebesar 28%, dibandingkan 12% untuk saham yang tidak terkait AI," tulis analis BofA dalam catatannya. Namun, konsensus memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan berbasis AI akan melambat menjadi 16% pada kuartal berikutnya. Pekan ini, sejumlah perusahaan yang menjadi perhatian investor antara lain produsen semikonduktor Applied Materials, perusahaan peralatan jaringan Cisco, serta perusahaan teknologi infrastruktur cloud CoreWeave.
Baca Juga: Taiwan Simulasikan Tangkal Serangan China, Internet Seluler Diperlambat Dolar dan Emas
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun sedikit naik menjadi 4,673%. Pasar bersiap menghadapi penerbitan obligasi baru senilai sekitar US$125 miliar sepanjang pekan ini. Penurunan imbal hasil obligasi dan membaiknya sentimen terhadap aset berisiko turut menekan dolar AS. Euro berada di sekitar US$1,1557, mendekati level tertinggi dalam tujuh pekan. Sementara itu, dolar AS relatif stabil terhadap yen di 157,85 yen per dolar. Investor tetap mewaspadai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang apabila pelemahan yen berlangsung terlalu jauh. Di pasar komoditas, harga emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga tetap bertahan di sekitar US$4.342 per ons troi, setelah melonjak lebih dari 7% sepanjang pekan lalu.