Bursa Asia Menguat Senin (21/9) Jelang Trump-Xi, Investor Indonesia Tunggu Sinyal BI



KONTAN.CO.ID - Saham-saham teknologi Asia menguat pada perdagangan Senin (21/9/026), didorong optimisme terhadap prospek kecerdasan buatan (AI) dan sektor semikonduktor.

Investor juga mencermati pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini untuk mencari sinyal mengenai hubungan dagang dan prospek ekonomi global.

Baca Juga: Direksi Ketrosden (KETR) Kompak Borong Saham di Harga Rp 200


Melansir Reuters, saham teknologi menjadi penggerak utama bursa kawasan. Indeks KOSPI Korea Selatan sempat menguat 1,7% ke level tertinggi sejak 10 September.

Bursa Taiwan juga naik sekitar 1% dan menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga bulan.

Penguatan saham chip di Asia mengikuti kinerja positif perusahaan semikonduktor di AS. Meningkatnya minat investor terhadap saham berbasis AI serta indikasi permintaan teknologi yang masih bertahan turut menopang sentimen di pasar saham Asia Utara.

Di kawasan Asia Tenggara, saham Singapura naik 0,3%, sedangkan saham Filipina menguat 0,2%.

Selain sentimen global, investor di Indonesia juga mencermati pertemuan kebijakan Bank Indonesia (BI) pekan ini.

Pasar menunggu petunjuk mengenai arah suku bunga BI di tengah upaya menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,39% ke Rp 17.827 per Dolar AS pada Senin (21/9) Siang

Ekonom senior DBS Radhika Rao mengatakan, inflasi Indonesia tidak lagi menjadi tekanan utama bagi kebijakan moneter karena masih berada dalam sasaran BI.

Kondisi tersebut, menurut dia, membuat BI memiliki ruang untuk tidak terburu-buru memperketat kebijakan meski Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga.

"Inflasi sudah tidak menjadi tekanan utama, tetapi masih berada dalam kisaran target BI. Dalam kondisi ini dan meski The Fed menaikkan suku bunga, kami memperkirakan pembuat kebijakan Indonesia tidak memiliki urgensi besar untuk memperketat kebijakan saat ini," kata Radhika.

Menurut dia, Gubernur BI Destry Damayanti kemungkinan menyoroti kondisi keuangan global yang lebih ketat dan risiko geopolitik sebagai sejumlah risiko utama, sementara ekonomi domestik masih relatif tangguh.

Pergerakan rupiah juga menjadi perhatian investor. Mata uang Indonesia tersebut tercatat sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan sepanjang tahun ini, meski telah menguat lebih dari 2% sejak menyentuh rekor terendah pada 8 Juni.

Rupiah melemah 0,4% pada Senin dan menyentuh level terendah dalam satu bulan.

Baca Juga: IHSG Melemah 0,27% ke 6.423 di Sesi I Senin (21/9), MBMA, HRTA, EXCL Top Losers LQ45

Pergantian kepemimpinan BI sebelumnya sempat meningkatkan kekhawatiran investor. Namun, penunjukan Destry Damayanti sebagai gubernur bank sentral perempuan pertama Indonesia membantu meredakan kekhawatiran pasar dan menopang pemulihan terbatas rupiah.

Di pasar valuta asing Asia lainnya, won Korea Selatan menguat 0,4%, sedangkan dolar Taiwan naik 0,2%.

Sementara itu, indeks dolar AS relatif stabil setelah mencatat kenaikan lebih dari 1% pada pekan sebelumnya.

Penguatan dolar terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan lanjutan.

Menanti Trump-Xi

Perhatian investor global juga tertuju pada pertemuan Trump dan Xi di Washington pada 24 September.

Pasar berharap pertemuan tersebut memberikan sinyal mengenai membaiknya hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia setelah berbulan-bulan menghadapi ketegangan perdagangan dan geopolitik.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, investor masih berhati-hati dalam berharap bahwa gencatan perdagangan antara AS dan China dapat dipertahankan.

"Investor dengan hati-hati berharap gencatan perdagangan saat ini dapat dipertahankan," kata Lukman.

Baca Juga: Ada Rencana Right Issue dan Akuisisi FFI, Intip Profil ULTJ hingga Kinerja Terkini

Menurut dia, hasil pertemuan yang konstruktif dapat memberikan dukungan tambahan bagi pasar saham Asia. Sebaliknya, kembali meningkatnya ketegangan perdagangan dapat menekan sentimen investor.

Di tengah sentimen tersebut, saham Vietnam juga mendapat katalis tersendiri.

Saham Vietnam mulai masuk ke indeks pasar negara berkembang FTSE Russell pada Senin, menandai tonggak penting setelah bertahun-tahun melakukan reformasi untuk menarik investor asing.

Indeks saham Vietnam sempat menguat 0,8% pada perdagangan Senin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News