KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Senin (22/6/2026) setelah negosiator Iran menyatakan adanya kemajuan dalam perundingan damai dengan Amerika Serikat (AS). Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar bahwa proses negosiasi akan mengalami kegagalan.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Setelah Iran Kembali Tutup Hormuz Senin (22/6), Brent ke US$ 81 Pejabat dari Qatar dan Pakistan juga mengumumkan bahwa sesi pertama pembicaraan telah selesai dan menghasilkan kemajuan dalam penyusunan peta jalan menuju kesepakatan final dalam 60 hari ke depan. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran, sementara Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan pejabat Iran dalam pembicaraan pertama sejak tercapainya kesepakatan damai sementara. Perundingan sempat dibayangi keputusan Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz. Data pelacakan kapal menunjukkan jumlah kapal yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut menurun, setelah tercatat 32 kapal melintas pada Jumat dan 26 kapal pada Sabtu. Meski demikian, kabar kemajuan negosiasi membuat harga minyak melepas sebagian kenaikan awal. Kontrak Brent turun 0,4% menjadi US$ 80,17 per barel, jauh di bawah puncak harga pada Mei yang sempat mencapai US$ 126,41 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) masih menguat 1,2% menjadi US$ 77,52 per barel.
Baca Juga: Harga Emas Bangkit dari Titik Terendah Sepekan Senin (22/6), Sentuh Level US$ 4.209 Di pasar saham, indeks Nikkei Jepang melonjak 1,9% setelah pekan lalu mencetak rekor tertinggi sepanjang masa dengan kenaikan hampir 8%. Bursa Korea Selatan juga melanjutkan reli dengan penguatan 2,6%, setelah melesat lebih dari 11% pada pekan sebelumnya berkat tingginya permintaan saham-saham semikonduktor. Melansir
Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,0%, sedangkan indeks saham unggulan China bergerak relatif datar. Di sisi lain, kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,2% dan Nasdaq futures melemah 0,3%. Di Eropa, futures EURO STOXX 50 terkoreksi 0,1%, DAX Jerman bergerak mendatar, sementara FTSE Inggris naik 0,1%. Pasar Kurangi Spekulasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Baca Juga: Strategi Investasi Jepang hingga 2040, Peluang Ada di AI, Chip, dan Robotika Pasar obligasi masih berada di bawah tekanan setelah Federal Reserve memberikan sinyal yang lebih hawkish pekan lalu. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September mencapai sekitar 75%. Kontrak futures menunjukkan ekspektasi pengetatan kebijakan moneter sebesar 38 basis poin hingga akhir tahun. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sempat naik hingga 4 basis poin ke level tertinggi sejak awal 2025, yakni 4,2276%. Kepala Strategi Lintas Aset JPMorgan, Fabio Bassi, mengatakan skenario dasar perusahaannya masih memperkirakan kenaikan suku bunga pertama baru terjadi pada paruh kedua 2027. Namun, risiko kenaikan lebih cepat tetap terbuka apabila tekanan inflasi bertahan. "Kami tetap konstruktif terhadap aset berisiko karena pasar tenaga kerja yang membaik akan membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama, mendukung saham berkualitas, kapitalisasi besar, dan sektor teknologi," ujar Bassi.
Baca Juga: Dolar AS Menguat, Ketidakpastian Perdamaian AS-Iran Kembali Membayangi Pasar Ia bahkan melihat peluang indeks S&P 500 bergerak menuju level 8.000 jika kondisi ekonomi tetap mendukung. Fokus pasar pekan ini tertuju pada data inflasi inti AS yang menjadi acuan utama The Fed dan akan dirilis Kamis mendatang. Inflasi inti diperkirakan naik tipis menjadi 3,4% pada Mei, yang dapat memperkuat argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat. Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Gubernur Christopher Waller dan Presiden Federal Reserve New York John Williams, juga dijadwalkan menyampaikan pandangan mereka pekan ini.
Baca Juga: Mineral Kritis Jadi Rebutan Investor Global, Ini Faktor Pendorongnya Dolar Tetap Perkasa, Emas Bangkit
Sikap hawkish The Fed turut menopang penguatan dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam bertahan di level 161,48 yen, mendekati area yang dipandang pasar dapat memicu intervensi otoritas Jepang. Euro melemah ke US$ 1,1464 setelah menyentuh level terendah tiga bulan pada Jumat lalu di US$ 1,1418. Pound sterling juga turun 0,2% ke US$ 1,3210 di tengah ketidakpastian politik Inggris. Laporan media menyebut Perdana Menteri Inggris Keir Starmer tengah mempertimbangkan masa depan politiknya setelah kemenangan telak rivalnya, Andy Burnham, dalam pemilihan parlemen memicu desakan dari sejumlah anggota Partai Buruh agar Starmer mundur. Sementara itu, kemajuan pembicaraan damai AS-Iran membantu harga emas bangkit. Logam mulia tersebut naik 1,1% menjadi US$ 4.205 per ons troi.