Bursa Asia Menguat Senin (9/2/2026), Saham Jepang Cetak Rekor Tertinggi



KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia melonjak pada Senin (9/2/2026) seiring reli kuat di Jepang setelah kemenangan telak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memicu ekspektasi kebijakan reflasi yang lebih agresif.

Sentimen investor juga membaik menyusul rebound tajam Wall Street di akhir perdagangan pekan lalu.

Reli saham sektor semikonduktor serta aksi buru saham murah pada aset-aset momentum yang sebelumnya tertekan, termasuk perak, turut menopang sentimen. Selain itu, pasar juga semakin bertaruh pada pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve AS.


Baca Juga: Bursa Saham Jepang Melejit! Indeks Nikkei Tembus Rekor Tertinggi Baru di Pagi Ini

Pelaku pasar kini menilai pemangkasan suku bunga pada Juni sebagai skenario yang paling mungkin, dengan sederet data ekonomi AS pekan ini, mulai dari tenaga kerja, inflasi, hingga belanja konsumen diperkirakan akan memperkuat argumen stimulus.

Indeks Nikkei Jepang memimpin penguatan dengan lonjakan 4,2% ke level tertinggi sepanjang masa, seiring mayoritas kuat pemerintahan baru yang membuka jalan bagi peningkatan belanja negara dan pemangkasan pajak.

“Pemotongan pajak konsumsi untuk makanan akan berdampak positif bagi belanja domestik, sementara peningkatan anggaran militer menguntungkan saham-saham pertahanan,” kata Jamie Halse, Managing Director di Senjin Capital, Sydney.

“Pertanyaan besarnya adalah kebijakan tambahan apa lagi yang mungkin diambil dengan mandat besar berupa mayoritas dua pertiga ini,” tambahnya.

“Pemilih jelas telah mendukung Sanaenomics, sehingga peluang munculnya langkah lanjutan cukup terbuka.”

Baca Juga: Menang Pemilu, Trump Ucapkan Selamat kepada Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 1,0%, sementara indeks saham teknologi Korea Selatan melonjak 3,9%.

Kontrak berjangka S&P 500 naik 0,4% dan Nasdaq futures menguat 0,6%, setelah keduanya melesat lebih dari 2% pada Jumat dan memutus rangkaian penurunan tajam.

Saham-saham chip menjadi penopang utama Wall Street. Nvidia melonjak hampir 8%, Advanced Micro Devices (AMD) melesat lebih dari 8%, dan Broadcom naik sekitar 7%.

Meski demikian, kekhawatiran tetap ada mengenai apakah belanja besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) benar-benar akan menghasilkan imbal balik yang sepadan, serta perusahaan mana yang pada akhirnya akan menjadi pemenang.

Empat raksasa teknologi AS terbesar saja diperkirakan akan menggelontorkan belanja modal US$650 miliar tahun ini.

“Investor mulai beralih secara rasional dari pembelanja AI ke pihak yang menikmati manfaatnya, dari sektor jasa ke manufaktur, serta dari dominasi AS ke penyeimbangan global,” tulis analis Bank of America (BofA) dalam sebuah catatan. “Kami long Main Street dan short Wall Street.”

Baca Juga: Terungkap! Skema Baru UE Redakan Perang Dagang EV China-Eropa

Data AS Uji Ekspektasi The Fed

Agar reli pasar berlanjut, data ekonomi AS pekan ini perlu cukup moderat untuk menjaga peluang pemangkasan suku bunga, namun tidak terlalu lemah hingga mengancam konsumsi dan laba perusahaan.

Nonfarm payrolls AS diperkirakan bertambah 70.000 pada Januari, dengan tingkat pengangguran berada di 4,4%.

Namun, pertumbuhan tenaga kerja sepanjang 2025 juga diprediksi akan direvisi turun cukup signifikan.

Penjualan ritel diperkirakan naik moderat 0,4%, sementara inflasi konsumen, baik utama maupun inti, diproyeksikan melambat ke 2,5% pada Januari.

Data yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi menekan imbal hasil obligasi AS dan dolar, meski yen dan pound sterling juga menghadapi tantangan masing-masing.

Baca Juga: Manajer Hedge Fund Populer Prediksi Bitcoin Akan Anjlok ke Level US$ 0 (Nol)

Investor telah lebih dulu menjual yen dan obligasi pemerintah Jepang (JGB) dengan mengantisipasi kebijakan ekspansif berbasis utang di bawah pemerintahan Takaichi.

Dolar AS bertahan di 157,22 yen, masih di bawah puncak terbaru di 159,45. Analis menilai pergerakan menuju 160,00 kemungkinan akan memicu ancaman intervensi dari Tokyo.

Euro bergerak datar di US$1,1810, sementara pound sterling tertahan di US$1,3597, dibayangi ketidakpastian politik Inggris di tengah spekulasi bahwa Perdana Menteri Keir Starmer berisiko kehilangan jabatannya.

Kepala staf Starmer Morgan McSweeney mengundurkan diri pada Minggu, mengaku bertanggung jawab atas saran penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk AS, meski diketahui memiliki keterkaitan dengan Jeffrey Epstein.

“Jika Starmer digantikan, imbal hasil obligasi Inggris kemungkinan naik dan pound melemah pada tahap awal,” kata Ruth Gregory, Wakil Kepala Ekonom Inggris di Capital Economics.

Baca Juga: Kim Jong Un Buka Kongres Langka: Apa Rahasia di Balik Jadwal Ini?

Komoditas dan Energi

Di pasar komoditas, harga perak melonjak 2,4% ke US$79,82, setelah bergejolak tajam pada Jumat, sempat jatuh 15% sebelum berbalik naik 9%.

Pergerakan ekstrem tersebut dipicu tekanan likuidasi posisi leverage yang memicu margin call dan aksi jual paksa.

Emas juga menguat 1,5% ke US$5.033 per ons troi, setelah sempat merosot hingga US$4.403 pekan lalu.

Sementara itu, harga minyak masih bergerak fluktuatif seiring pasar menunggu hasil pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran, yang sejauh ini belum mampu meredakan risiko konflik militer.

Minyak Brent turun 0,8% ke US$67,52 per barel, sedangkan WTI melemah 0,7% ke US$63,09 per barel.

Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Maluku 9 Februari 2026: Ambon Hujan Ringan

Menarik Dibaca: Film Beda Agama, Ini 7 Kisah Cinta Paling Menyayat Hati di Indonesia