KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia menguat terbatas pada Rabu (22/7/2026), mengikuti reli Wall Street. Namun, penguatan pasar tertahan oleh kewaspadaan investor menjelang laporan keuangan emiten teknologi raksasa Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak kembali naik. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 0,2%. Penguatan dipimpin pasar Korea Selatan, meski indeks Kospi memangkas kenaikan menjadi 1,5% setelah sempat melonjak lebih dari 6% berkat
rebound saham-saham semikonduktor.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Hari Ini, Harga Minyak Melonjak Akibat Memanasnya Konflik Iran-AS Sementara itu, indeks Nikkei 225 Jepang bergerak fluktuatif, kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,2%, dan pasar saham Hong Kong turun 1,2%. Analis Westpac menilai pelaku pasar untuk sementara mengabaikan risiko geopolitik dan lebih fokus pada pemulihan sektor teknologi. "Pasar saham lebih memilih mencermati kinerja sektor teknologi, sementara saham semikonduktor bangkit setelah tekanan beberapa hari terakhir," tulis analis Westpac. Perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan Alphabet dan Tesla. Alphabet menghadapi sorotan terkait keterlambatan peluncuran model kecerdasan buatan (AI) terbarunya, sedangkan Tesla diperkirakan membukukan arus kas kuartalan negatif untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Musim laporan keuangan ini dinilai akan menjadi ujian apakah euforia AI masih mampu menopang kenaikan pasar saham global.
Baca Juga: Bursa Asia Tinggalkan Rekor Tertinggi, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Di sisi lain, harga minyak mentah Brent naik 1,3% menjadi US$ 92,22 per barel setelah dua kapal tanker pengangkut minyak Saudi menuju Asia berbalik arah di Laut Merah menyusul ancaman serangan kelompok Houthi di Yaman. Kenaikan harga minyak mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat eskalasi konflik di kawasan tersebut. Sentimen negatif juga menekan saham farmasi India yang turun 1,5% setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru terhadap obat generik impor. Tarif akan tetap 0% selama dua tahun mulai 1 Agustus, kemudian naik menjadi 100% selama satu tahun dan meningkat menjadi 200% setelahnya. Di pasar mata uang, indeks dolar AS bertahan di level 101,14 atau mendekati posisi tertinggi dalam sepekan. Dolar diperdagangkan stabil di kisaran 163,17 yen setelah sehari sebelumnya mencapai level tertinggi dalam empat dekade terhadap mata uang Jepang. Pemerintah Jepang kembali menegaskan siap mengambil langkah tegas di pasar valuta asing bila diperlukan untuk menahan pelemahan yen.
Baca Juga: Bursa Asia Waspada Senin (16/3), Harga Minyak Bergolak karena Ketegangan Hormuz Lonjakan harga minyak dan pelemahan yen mendorong nilai impor Jepang mencetak rekor pada Juni. Namun, ekspor negara tersebut juga melampaui ekspektasi berkat tingginya permintaan pusat data berbasis AI serta keuntungan dari pelemahan mata uang domestik.
Sementara itu, pasar obligasi relatif tenang menjelang rapat bank-bank sentral pekan depan. Survei Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan hingga akhir 2026, meski peluang kenaikan suku bunga masih dinilai cukup besar. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis menjadi 4,628%.
Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis, Pasar Cermati Stok AS dan Memanasnya Konflik Iran-AS Di pasar komoditas, harga emas menguat 1,2% menjadi US$ 4.124,74 per ons. Sementara itu, bitcoin melemah 0,5% ke US$ 66.077,16 dan ether bergerak stabil di level US$ 1.923,25.