KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia menguat pada awal perdagangan Kamis (27/8/2026), memperpanjang penguatan untuk hari ketiga berturut-turut. Sentimen positif terutama datang dari kinerja Nvidia yang melampaui ekspektasi pasar dan kembali meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor teknologi.
Baca Juga: Investasi Bisnis Australia Turun 3,6% pada Kuartal II 2026 Mengutip
Reuters, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,7%. Indeks tersebut berada di jalur untuk mencatat penguatan selama tiga hari berturut-turut setelah Nvidia melaporkan pendapatan kuartalan yang lebih dari dua kali lipat dan memproyeksikan pendapatan kuartal III di atas perkiraan Wall Street. Saham Nvidia melonjak 4,7% dalam perdagangan setelah jam bursa. Penguatan tersebut turut mendorong kontrak berjangka S&P 500 e-mini sebesar 0,4%. "Bisnis ini berada dalam kondisi yang sangat sehat. Hal ini akan membuat orang bertanya-tanya, apa yang mereka lewatkan?" ujar Chris Weston, Head of Research Pepperstone Group di Melbourne. Menurut dia, kinerja Nvidia menjadi sinyal bullish bagi pasar. Perusahaan-perusahaan yang memasok Nvidia dalam rantai pasok juga berpotensi mendapatkan keuntungan dari perkembangan tersebut.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Menguat, Didukung Prospek Chip Nvidia dan Fokus ke Kebijakan BOK Saham Asia Menguat Di Asia, KOSPI Korea Selatan naik 1,5%, meski memangkas sebagian penguatan awal setelah Bank of Korea (BOK) menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3%, sesuai ekspektasi pasar. Saham Taiwan juga menguat 0,9%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,4%. Pergerakan bursa Asia terjadi setelah Wall Street ditutup cenderung datar pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 berakhir nyaris tidak berubah setelah data menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Amerika Serikat naik 0,2% pada Juli secara bulanan, setelah turun 0,1% pada bulan sebelumnya. Analis Societe Generale menilai, inflasi inti PCE Juli secara umum sesuai ekspektasi, tetapi sejumlah komponennya menunjukkan tekanan yang lebih kuat. "Latar belakang inflasi terlihat sedikit lebih kuat menjelang pertemuan FOMC September," tulis analis Societe Generale.
Baca Juga: Bursa Saham Australia Melemah, Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga Membebani Investor Menanti Sinyal The Fed Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun turun 1,5 basis poin menjadi 4,647%. Investor kini menantikan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026) untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga AS. Di pasar komoditas, harga Brent turun 0,7% menjadi US$87,20 per barel. Harga minyak berada di jalur untuk mencatat penurunan selama empat hari berturut-turut. Pelemahan harga minyak terjadi menjelang kunjungan Perdana Menteri Qatar ke Teheran pada Kamis untuk mengupayakan kembali pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. "Minyak mentah terus melemah secara bertahap meski prospek pengelolaan Selat Hormuz dan kondisi pasokan minyak global masih sangat tidak pasti," tulis analis Westpac.
Baca Juga: UOB Terbitkan Dua Obligasi Berdenominasi Euro Senilai US$1,17 Miliar Sementara itu, indeks dolar AS berada di level 99,12, mendekati posisi tertinggi dalam sepekan terakhir. Harga emas kembali menguat 0,7% menjadi US$4.624,14 per ons troi, setelah terkoreksi pada perdagangan Rabu. Di pasar kripto, Bitcoin naik 0,8% menjadi US$79.043,18, sedangkan Ethereum menguat 1,3% menjadi US$2.504,96. Penguatan emas dan aset kripto tersebut disebut turut didukung kembali munculnya strategi perdagangan yang mengantisipasi pelemahan nilai dolar AS, setelah Departemen Keuangan AS melakukan intervensi di pasar obligasi pada pekan lalu.