Bursa Asia Menguat Tipis Jumat (23/1), Jelang Keputusan Suku Bunga Bank of Japan



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia mencatat penguatan terbatas pada perdagangan awal Jumat (23/1/2026), seiring investor bersikap hati-hati menanti hasil rapat kebijakan moneter Bank of Japan (BOJ) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik 0,4%, sementara indeks Nikkei 225 Jepang menguat tipis 0,2%. Kontrak berjangka S&P 500 e-mini bergerak fluktuatif dan terakhir naik 0,1%.

Di Wall Street, saham Amerika Serikat (AS) melanjutkan reli untuk hari kedua berturut-turut pada Kamis (22/1), setelah Presiden AS Donald Trump melunakkan ancamannya terkait tarif terhadap produk Eropa serta menegaskan tidak akan mengambil alih Greenland dengan kekuatan militer.


Indeks S&P 500 naik 0,5%, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 0,9%.

Baca Juga: Emas, Perak, dan Platinum Lanjutkan Reli pada Jumat (23/1), Cetak Rekor Baru

“Pasar menyambut perubahan sikap tersebut dengan rebound pada aset berisiko dan pelandaian kurva imbal hasil obligasi pemerintah. Namun, ketidakpastian kebijakan masih tinggi dan berpotensi memicu dinamika lanjutan,” tulis analis Societe Generale dalam laporan riset.

Nilai tukar yen melemah 0,1% ke level 158,54 per dolar AS menjelang keputusan BOJ.

Pelemahan ini terjadi setelah data pemerintah menunjukkan inflasi inti Jepang naik 2,4% secara tahunan pada Desember, sejalan dengan perkiraan analis.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama tercatat stabil di level 98,329, mendekati posisi terendah tahun ini, setelah mencatat penurunan harian terbesar dalam enam pekan pada Kamis.

Kontrak berjangka Fed funds menunjukkan peluang 96% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada rapat dua hari mendatang yang berakhir 28 Januari, relatif tidak berubah dibandingkan sehari sebelumnya, berdasarkan FedWatch Tool CME Group.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik tipis 0,2 basis poin ke level 4,247%.

Baca Juga: Trump Sebut Armada AS Bergerak ke Iran: Risiko Perang di Timur Tengah Meningkat?

Di pasar komoditas, harga logam mulia kembali mencetak rekor seiring melemahnya dolar AS.

Harga emas naik untuk hari kelima berturut-turut, menguat 0,3% ke US$4.951,47 per ons troi. Sementara itu, harga perak melonjak 1,7% ke US$97,85 per ons troi.

Bursa Korea Selatan memimpin penguatan di Asia, dengan indeks Kospi naik 1,1% untuk hari ketiga berturut-turut, setelah menembus level 5.000 pada Kamis.

Pencapaian ini merupakan tonggak penting yang sebelumnya dijanjikan Presiden Lee Jae Myung melalui reformasi pasar dan kebijakan pajak untuk mengurangi fenomena “Korea discount”.

Penguatan indeks berbasis teknologi ini, yang ditopang saham Samsung Electronics, terjadi meski Intel memperkirakan pendapatan dan laba kuartalan di bawah ekspektasi pasar.

Baca Juga: Dolar AS Menuju Pelemahan Mingguan Terburuk (23/1), Yen Tertekan Jelang Keputusan BoJ

Saham Intel anjlok 11% dalam perdagangan setelah jam bursa AS, akibat kesulitan memenuhi permintaan chip server untuk pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

Di pasar energi, harga minyak mentah Brent naik 0,4% ke US$64,30 per barel, stabil setelah nada Trump yang lebih lunak terhadap Greenland dan Iran meredakan kekhawatiran risiko geopolitik yang dapat mengganggu pasokan.

Sementara itu, harga Bitcoin naik 0,3% ke US$89.499,47, dan Ether menguat 0,2% ke level US$2.948,14.

Selanjutnya: Melonjak Gila-gilaan, Harga Emas Antam Hari Ini Jumat 23 Januari 2026 Rekor Baru

Menarik Dibaca: Melonjak Gila-gilaan, Harga Emas Antam Hari Ini Jumat 23 Januari 2026 Rekor Baru