KONTAN.CO.ID - Pergerakan pasar saham di kawasan Asia cenderung menguat tipis pada awal pekan Senin (4/5/2026). Sementara harga minyak dunia bergerak stagnan di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah. Melansir
Reuters, sentimen pasar mendapat sedikit dorongan setelah muncul tanda-tanda kemajuan, meski terbatas, dalam upaya meredakan ketegangan geopolitik. Namun, pelaku pasar masih bersikap hati-hati menantikan perkembangan lebih lanjut.
Baca Juga: AS Sebut Taiwan Mitra Tepercaya, Soroti Hubungan dengan Eswatini Presiden Amerika Serikat Donald (AS) Trump mengatakan pemerintahnya akan mulai mengupayakan pembebasan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Meski demikian, belum ada rincian teknis terkait langkah tersebut. Komando militer AS menyatakan dukungan operasi mencakup pengerahan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat, serta sekitar 15.000 personel militer. Di sisi lain, Iran menyebut pihaknya tengah meninjau respons AS terhadap proposal 14 poin yang diajukan melalui mediator Pakistan. Namun, Trump menilai proposal tersebut kemungkinan sulit diterima.
Baca Juga: Kapal Tanker Dihantam Proyektil Tak Dikenal di Lepas Pantai Fujairah, UEA Harga minyak mentah dunia bergerak relatif datar. Minyak Brent bertahan di kisaran US$ 108,30 per barel setelah sempat turun lebih dari 2%, sementara minyak mentah AS berada di level US$ 102,01 per barel. Pelaku pasar juga mencermati laporan adanya serangan terhadap kapal kargo di dekat wilayah Sirik, Iran, yang menambah ketidakpastian terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Di pasar saham, indeks kawasan Asia-Pasifik di luar Jepang menguat sekitar 0,6%. Bursa Korea Selatan melonjak 2,6% setelah kembali dibuka pascalibur. Sementara perdagangan di Jepang cenderung sepi karena libur nasional. Kontrak berjangka indeks Eropa seperti Euro Stoxx 50 dan DAX masing-masing naik tipis 0,1%, sedangkan FTSE justru melemah 0,4%. Sementara itu, futures indeks utama Wall Street seperti S&P 500 dan Nasdaq cenderung datar. Pasar global saat ini juga bersiap menghadapi musim laporan keuangan dengan lebih dari 100 perusahaan dijadwalkan merilis kinerja, termasuk Advanced Micro Devices, Palantir Technologies, Walt Disney, hingga McDonald's.
Baca Juga: GameStop Kejutkan Pasar: Tawarkan US$ 56 Miliar untuk Akuisisi eBay! Analis mencatat pertumbuhan laba per saham (EPS) perusahaan dalam indeks S&P 500 mencapai sekitar 25%, atau 16% jika mengecualikan faktor non-berulang. Meski demikian, respons pasar terhadap kinerja positif tersebut relatif terbatas. Di sisi kebijakan moneter, tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi mulai memengaruhi ekspektasi suku bunga. Sejumlah bank sentral global menunjukkan sikap lebih agresif (hawkish).
Pasar kini hanya memperkirakan pelonggaran suku bunga yang sangat terbatas dari bank sentral AS tahun ini. Sementara itu, ekspektasi kenaikan suku bunga di Eropa dan Inggris justru meningkat.
Baca Juga: Tragedi Kapal Pesiar: Hantavirus Mematikan Renggut Nyawa 3 Orang, WHO Turun Tangan Fokus investor juga tertuju pada data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis akhir pekan ini, yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depan. Di pasar mata uang, dolar AS melemah tipis terhadap yen Jepang, sementara euro dan pound sterling cenderung stabil. Harga emas turun sekitar 0,2% menjadi US$ 4.603 per ons, masih berada dalam kisaran pergerakan terbaru.