Bursa Asia Mixed Kamis (13/8), Rupiah Stagnan dan IHSG Tertekan 1,13%



KONTAN.CO.ID - Pasar keuangan Asia bergerak mixed pada perdagangan Kamis (13/8/2026), sementara mata uang kawasan cenderung melemah.

Data inflasi Amerika Serikat (AS) yang sesuai ekspektasi memberikan sedikit dorongan bagi pasar, meski investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Baca Juga: Saham Global Menguat Tipis Kamis (13/8), Harga Minyak di Bawah US$90 Jadi Perhatian


Melansir Reuters, Indeks MSCI mata uang negara berkembang (EM) bergerak relatif datar. Dolar Taiwan menjadi salah satu mata uang yang menguat dengan kenaikan sekitar 0,2%.

Sebaliknya, peso Filipina dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,2%. Won Korea Selatan turun 0,1% dan rupiah Indonesia stagnan. Sementara dolar Singapura, dan baht Thailand juga mengalami pelemahan tipis.

Data menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,1% pada Juli, sesuai dengan perkiraan pasar.

Setelah data tersebut dirilis, kontrak berjangka dana Fed atau Fed funds futures menunjukkan, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September sekitar 40%, turun dari 54% sepekan sebelumnya berdasarkan CME FedWatch.

"CPI tersebut cukup meyakinkan, tetapi belum cukup lemah untuk mengubah prospek The Fed secara material," ujar Glenn Yin, Director of Research ACCM.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat dolar AS tetap relatif kuat dan membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang, terutama ketika imbal hasil obligasi AS masih berada di level tinggi.

Indeks dolar AS juga relatif stabil setelah data inflasi, berada di sekitar 99,976.

Baca Juga: Selat Hormuz Disebut Iran Masih di Bawah Kendali Teheran

Bursa Asia Lebih Positif

Di pasar saham, bursa Asia mendapat dukungan lebih kuat. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik sekitar 1% ke level tertinggi hampir satu bulan.

Namun, sejumlah pasar regional justru bergerak melemah.

Bursa saham Indonesia turun 1,13%, seiring investor mencermati keputusan MSCI yang akan menghapus saham perusahaan teknologi dan ride-hailing GoTo Gojek Tokopedia dari indeks Indonesia pada akhir Agustus.

Andrey Wijaya, Head of Research RHB Indonesia mengatakan, keputusan tersebut menambah kehati-hatian investor dalam jangka pendek.

Meski demikian, menurut dia, penghapusan GoTo tidak mencerminkan pelemahan fundamental pasar saham Indonesia secara keseluruhan.

"Dampak langsungnya kemungkinan besar bersifat spesifik terhadap perusahaan, terutama GoTo," ujarnya.

Saham GoTo sendiri tidak menunjukkan respons signifikan terhadap kabar tersebut. Saham GOTO terakhir berada di level Rp50 per saham, yang merupakan batas harga terendah perdagangan di papan utama Bursa Efek Indonesia (BEI).

Di pasar lainnya, indeks saham Filipina turun 1,1%, saham Malaysia melemah 0,3%, dan indeks Straits Times Singapura turun 0,2%. Sebaliknya, saham Thailand menguat 0,3%.

Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Turun Kamis (13/8), Saham Tambang dan CBA Jadi Beban

Saham Korea Selatan Jadi Sorotan

Bursa Korea Selatan bergerak berlawanan dengan sebagian besar pasar regional. Indeks acuan KOSPI melonjak 3,6% dan ditutup di level tertinggi sekitar tiga pekan.

KOSPI juga berpeluang mencatat kenaikan hampir 9% sepanjang pekan ini, sekaligus mengakhiri tren penurunan selama tujuh pekan berturut-turut.

Indeks tersebut telah menguat dalam empat sesi perdagangan sepanjang pekan ini. Investor kembali memburu saham perusahaan chip Asia setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah meredakan kekhawatiran mengenai kenaikan suku bunga lanjutan The Fed.

Sentimen juga didukung perkembangan positif dari perusahaan cloud berbasis AI seperti CoreWeave dan Super Micro Computer.

Kedua perusahaan tersebut mengumumkan rencana investasi yang lebih besar serta memberikan proyeksi pendapatan yang optimistis.

Perkembangan ini membantu meredakan kekhawatiran investor yang sebelumnya memicu aksi jual tajam saham teknologi pada Juli.

Dengan demikian, meski inflasi AS belum memberikan sinyal kuat mengenai perubahan kebijakan The Fed, prospek sektor AI dan semikonduktor menjadi salah satu faktor yang menopang bursa Asia, khususnya pasar Korea Selatan.

Baca Juga: Saham Chip Menggila, KOSPI Korea Selatan Melonjak 3,56% ke Level Tertinggi 3 Pekan