Bursa Asia Moncer Awali 2026, Taiwan-Korsel & Singapura Cetak Rekor Baru



KONTAN.CO.ID - Saham-saham di Asia emerging markets memulai 2026 dengan catatan positif pada Jumat (2/1/2026), di mana pasar di Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura mencetak rekor tertinggi baru, seiring investor menilai apakah reli berbasis kecerdasan buatan (AI) tahun lalu masih berpotensi berlanjut.

Indeks MSCI untuk saham Asia emerging markets naik hingga 2% ke level tertinggi sejak akhir Oktober, didorong oleh saham-saham di Korea Selatan dan Taiwan, yang menyumbang sekitar dua per lima dari indeks tersebut.

Baca Juga: Emas & Logam Mulia: Reli 2026 Dimulai, Harga Tembus Rekor Baru


Indeks global untuk pasar negara berkembang juga melonjak 1,6% ke level tertinggi sejak Februari 2021.

Reli berbasis AI mendominasi pasar saham Asia sepanjang 2025, mendorong indeks mencetak rekor tertinggi meski ada kekhawatiran terkait valuasi.

Pasar Taiwan dan Korea Selatan menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari tren ini.

Kinerja Pasar Utama

Indeks KOSPI Korea Selatan, yang menjadi indeks terbaik tahun lalu dengan kenaikan 75%, naik 2,3% ke rekor 4.313,55, didorong oleh saham Samsung Electronics dan SK Hynix yang masing-masing naik 5% dan 3,5%.

Indeks acuan Taiwan menembus rekor baru di 29.363,43 poin. Pada 31 Desember, indeks ini menembus 29.000 poin untuk pertama kalinya, menutup tahun dengan kenaikan 27%, didorong oleh saham teknologi dan AI.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Tipis Jumat (2/1), Usai Catat Kerugian Tahunan Terbesar sejak 2020

Indeks FTSE Straits Times Singapura naik hingga 0,5% ke rekor 4.669,29 poin, setelah mencatat kenaikan lebih dari 22% sepanjang 2025, didorong oleh sektor perbankan, telekomunikasi, industri, dan properti.

Glenn Yin, Direktur Riset di AC Capital Market, mengatakan, "Saham Korea Selatan dan Taiwan tetap didukung permintaan ekspor AI yang kuat serta laba semikonduktor yang solid, namun potensi kenaikan dari sini kemungkinan lebih moderat.

 Valuasi sudah tinggi setelah reli tajam tahun lalu, sehingga pengulangan tahun 2026 kemungkinan lebih selektif dan tidak sekuat 2025."

Pasar Lain & Mata Uang

Saham di Filipina naik 1% ke level tertinggi sejak 21 Oktober, sementara saham Malaysia melemah ke level terendah enam sesi.

Mata uang Asia sebagian besar melemah: Rupiah turun 0,3% terhadap dolar AS, sementara won Korea Selatan melemah 0,4%.

Bank of Korea menyebut level dolar-won di kisaran 1.400 terlalu tinggi dibandingkan fundamental ekonomi, sebagian dipicu oleh investasi domestik di saham luar negeri.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Cetak Rekor di Awal 2026, Didorong Data Perdagangan Positif

Pertumbuhan Ekonomi & Prospek

Ekonomi Singapura tumbuh 5,7% pada kuartal IV 2025, membawa pertumbuhan tahunan menjadi 4,8%, terkuat sejak 2021, didorong oleh manufaktur yang solid dan lonjakan produk terkait AI secara global.

Analis Maybank menilai momentum pertumbuhan ini kemungkinan berlanjut hingga paruh pertama 2026, meski ada risiko tarif dan ketegangan geopolitik, dengan dukungan dari ekspor elektronik, investasi, dan layanan teknologi.

Sebagian besar mata uang Asia mencatat penguatan sepanjang 2025, didukung fundamental kuat dan dolar yang melemah. Ringgit Malaysia naik lebih dari 10%, sementara baht Thailand naik 8,4%.

Baca Juga: Perdagangan Awal 2026, Harga Emas dan Perak Melanjutkan Reli

Indeks dolar AS turun 9% sepanjang 2025, mencatat penurunan tahunan terbesar sejak 2017, dipicu oleh penurunan suku bunga dan kebijakan perdagangan AS yang fluktuatif di bawah Presiden Donald Trump.

Pasar Thailand dan China tutup karena libur.

Selanjutnya: Cara Cepat Klaim JHT via JMO 2026, Simak Syaratnya Ini

Menarik Dibaca: Diminati, Jumlah Pelanggan Kereta Panoramic Tumbuh 38,6% Sepanjang 2025