Bursa Asia Mulai Waspada Kamis (9/4) Pagi, Gencatan Senjata Teluk Dinilai Masih Rapuh



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia bergerak lebih hati-hati pada Kamis (9/4/2026), seiring mulai munculnya keraguan atas keberlanjutan gencatan senjata di kawasan Teluk.

Kondisi ini mendorong harga minyak kembali naik dan mengingatkan investor bahwa tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama.

Belum terlihat tanda jelas bahwa Selat Hormuz telah kembali beroperasi secara normal. Iran masih menunjukkan kendali atas jalur vital tersebut, bahkan dilaporkan meminta “biaya” untuk memastikan keamanan pelayaran.


Baca Juga: Pajak Ekspor Minyak Brasil Dibatalkan: Raksasa Migas Hemat Miliaran

Melansir Reuters, CEO deVere Group Nigel Green menilai kondisi ini jauh dari stabil.

“Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur yang masih berada di bawah pengaruh salah satu pihak dalam konflik. Ini bukan stabilitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, pasar minyak tidak membutuhkan blokade penuh untuk kembali melonjak. “Rudal masih diluncurkan di kawasan Teluk, Israel masih terlibat di front lain, tetapi pasar seolah menganggap situasi telah normal,” katanya.

Akibatnya, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% menjadi US$96,99 per barel, sementara minyak Brent menguat 2,1% ke US$96,74 per barel.

Baca Juga: Semenanjung Korea Memanas: Korut Uji Hulu Ledak Bom Kluster Berdaya Rusak

Bursa Asia Bergerak Campuran

Indeks saham di kawasan Asia menunjukkan pergerakan terbatas setelah reli tajam sehari sebelumnya.

Indeks Nikkei Jepang bergerak datar setelah melonjak 5,4%, sementara pasar Korea Selatan turun 0,4% usai sebelumnya naik 6,8%.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga melemah tipis 0,3%. Di Amerika Serikat, kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,2% setelah reli sebelumnya mulai mereda.

Untuk kawasan Eropa, kontrak berjangka menunjukkan pergerakan campuran, mencerminkan sikap investor yang masih menunggu kepastian lebih lanjut terkait kondisi geopolitik.

Baca Juga: Gejolak Energi Global: Minyak Brasil Jadi Rebutan China dan India

Tekanan Inflasi Tak Terhindarkan

Dengan harga minyak yang masih sekitar 40% lebih tinggi dibanding sebelum konflik, tekanan inflasi diperkirakan akan mulai terlihat dalam data ekonomi global.

Data inflasi inti AS untuk Februari yang akan dirilis diperkirakan mencatat kenaikan 0,4% untuk bulan kedua berturut-turut, bahkan sebelum lonjakan harga energi terbaru.

Risalah rapat terakhir bank sentral AS, Federal Reserve, menunjukkan semakin banyak pejabat yang mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi, meskipun sebagian masih berharap langkah berikutnya adalah pemangkasan suku bunga.

Analis JPMorgan menilai bank sentral kemungkinan akan menahan suku bunga sepanjang tahun ini. Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter juga mulai berkurang signifikan.

Baca Juga: Harga Minyak Ditutup Anjlok ke Bawah US$ 100, Terseret Gencatan Senjata AS-Iran

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di level 4,29%, naik dari sekitar 3,96% sebelum konflik Iran pecah.

Perubahan ekspektasi suku bunga ini turut menopang penguatan dolar AS. Euro bergerak stabil di level US$1,1660, sementara dolar berada di kisaran 158,60 yen Jepang.

Emas Stabil

Di pasar komoditas, harga emas cenderung stabil di kisaran US$4.718 per ons troi, setelah sempat melonjak hingga US$4.777 pada perdagangan sebelumnya.