Bursa Asia Rebound, IHSG Anjlok 11% Setelah MSCI Soroti Status Pasar Indonesia



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (16/10/2026) setelah aksi jual besar-besaran pada sesi sebelumnya. Pemulihan ini terjadi ketika investor mulai kembali memburu saham, meskipun kekhawatiran terhadap pembiayaan industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih membayangi pasar global.

Pada perdagangan sebelumnya, saham-saham teknologi tertekan setelah muncul kekhawatiran mengenai besarnya utang perusahaan komputasi awan CoreWeave. Kondisi tersebut memicu pertanyaan investor mengenai keberlanjutan pembiayaan yang selama ini menopang lonjakan investasi dan pertumbuhan industri AI.

Pasar obligasi juga mulai stabil setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) merosot tajam pada Kamis (15/10/2026). Penurunan tersebut terjadi seiring meningkatnya pembelian obligasi pemerintah AS atau Treasury serta surat utang negara lain yang dinilai lebih aman.


Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak menuju penurunan mingguan pertamanya dalam lima pekan terakhir. Pelemahan imbal hasil obligasi AS mengurangi daya tarik mata uang tersebut di mata investor.

Baca Juga: Penjualan Mobil Listrik Global Turun 2% pada September 2026, China dan AS Melemah

Sementara itu, harga emas terkoreksi dari level tertinggi pada perdagangan Kamis. Harga minyak mentah Brent juga bergerak melemah menuju US$ 105 per barel.

Bursa Asia Menguat, Nikkei dan Kospi Pulih

Mengutip Reuters, indeks Nikkei Jepang yang didominasi saham teknologi menguat 1,8% pada Jumat. Kenaikan tersebut memulihkan sebagian kerugian setelah indeks itu anjlok hampir 5% pada perdagangan sebelumnya.

Indeks Kospi Korea Selatan naik 2,8% setelah sebelumnya merosot hampir 8%. Sementara itu, indeks saham Taiwan menguat 0,7% dan indeks Hang Seng Hong Kong bertambah 1,1%.

Di China daratan, indeks saham unggulan CSI 300 naik tipis 0,3%.

Namun, pemulihan bursa saham Asia tidak terjadi secara merata. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia justru anjlok 11% setelah penyedia indeks global MSCI menyatakan bahwa pasar saham Indonesia tidak lagi memenuhi kriteria untuk menyandang status Emerging Market.

MSCI tengah mempersiapkan kemungkinan mengeluarkan pasar saham Indonesia dari sejumlah produk indeks yang menjadi acuan investor global. Potensi perubahan klasifikasi tersebut menjadi pukulan besar bagi pasar modal domestik karena berisiko mendorong arus keluar dana investasi asing.

Di pasar valuta asing, rupiah melemah sekitar 0,8% menjadi 95,0550 per dolar AS, sebagaimana angka yang dilaporkan Reuters.

Sementara itu, kontrak berjangka saham AS bergerak melemah. Kontrak berjangka Nasdaq turun 0,3%, sedangkan kontrak berjangka S&P 500 terkoreksi 0,1%. Pergerakan tersebut terjadi setelah kedua indeks saham utama AS itu mencatatkan kenaikan tipis pada perdagangan Kamis.

Kekhawatiran Utang CoreWeave Tekan Saham Teknologi

Tekanan terhadap saham teknologi global sebelumnya meningkat setelah saham CoreWeave, perusahaan komputasi awan yang didukung Nvidia, mengalami aksi jual tajam.

Pada perdagangan Rabu (14/10/2026), saham CoreWeave anjlok 15,5%. Pada perdagangan Kamis, saham tersebut sempat melanjutkan penurunan sebelum akhirnya menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.

Baca Juga: KFC Tinggalkan PepsiCo Setelah 40 Tahun, Gandeng Coca-Cola pada 2027

Kekhawatiran investor turut dipicu laporan bahwa imbal hasil obligasi CoreWeave telah mencapai tingkat yang diasosiasikan dengan utang bermasalah (distressed debt). Situasi ini memperbesar kekhawatiran mengenai risiko pembiayaan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pengembangan infrastruktur AI.

Selain CoreWeave, analis juga menyoroti tekanan terhadap saham produsen memori sepanjang pekan ini.

Perhatian investor tertuju pada kemajuan teknologi arsitektur DRAM generasi berikutnya yang dilaporkan oleh ChangXin Memory Technologies (CXMT), produsen memori asal China. Perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan persaingan dengan produsen memori yang telah lebih dahulu menguasai pasar.

Volatilitas Pasar Global Berpotensi Berlanjut

Analis pasar Capital.com, Kyle Rodda, menilai pergerakan pasar global kembali menunjukkan volatilitas tinggi setelah sebelumnya relatif tenang.

“Pasar global kembali menjadi sangat bergejolak setelah melewati periode volatilitas rendah. Wall Street mengalami pergerakan naik-turun yang tajam, imbal hasil obligasi berfluktuasi, pasar mata uang bergerak ekstrem, dan harga komoditas bergerak ke berbagai arah,” tulis Rodda dalam catatan kepada klien.

Menurut dia, volatilitas tersebut berpotensi berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.

“Pasar global berpotensi menghadapi periode volatilitas seperti ini dalam waktu yang cukup panjang,” ujarnya.

Rodda menilai, pengumuman kinerja keuangan perusahaan teknologi dalam beberapa pekan mendatang akan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor. Selain itu, pelaku pasar masih berupaya memperkirakan arah suku bunga di AS dan sejumlah negara dengan perekonomian utama lainnya.

Ketua Federal Reserve Kevin Warsh bersama sejumlah pejabat bank sentral dunia dijadwalkan berbicara dalam berbagai acara pada Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bangkok, Thailand, pada Jumat.

Baca Juga: Bursa Saham India Berpeluang Menguat, Ini Sentimen Pendorongnya

Namun, Rodda mengingatkan bahwa pernyataan Warsh mungkin tidak mudah diterjemahkan menjadi petunjuk kebijakan moneter.

“Mengingat sikapnya yang dikenal enggan berbicara dan bahkan menunjukkan ketidaksukaan terhadap segala sesuatu yang menyerupai panduan kebijakan ke depan, pelaku pasar harus bekerja keras untuk menyimpulkan petunjuk apa pun dari Warsh,” kata Rodda.

Di pasar obligasi Jepang, sebagian besar imbal hasil obligasi pemerintah naik kembali dan menghapus sekitar separuh penurunan pada Kamis. Pergerakan tersebut mengikuti pemulihan terbatas imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah sebelumnya mengalami penurunan tajam.

Dolar AS Melemah, Harga Emas Terkoreksi

Penurunan imbal hasil obligasi AS sepanjang pekan ini mengurangi permintaan terhadap dolar AS.

Indeks dolar AS bertahan di sekitar level 102 setelah terkoreksi tajam dari posisi tertinggi dalam satu setengah tahun terakhir, yakni mendekati 103 pada Rabu. Secara mingguan, indeks tersebut turun 0,2%.

Pelemahan dolar memberikan ruang bagi euro untuk pulih. Setelah sempat turun hingga US$ 1,1113 pada Rabu, euro berada di posisi US$ 1,1217 pada Jumat.

Pound sterling relatif stabil di US$ 1,3278 setelah melonjak 0,6% pada perdagangan Kamis. Sementara itu, dolar AS bergerak relatif tidak berubah di sekitar 158 yen Jepang.

Di pasar komoditas, harga emas spot turun 0,4% menjadi US$ 4.154,51 per ons troi. Koreksi tersebut terjadi setelah harga emas naik 1,6% pada Kamis akibat meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap sebagai tempat berlindung saat ketidakpastian pasar meningkat.

Harga Minyak Brent Turun di Tengah Risiko Geopolitik

Harga minyak mentah bergerak melemah ketika investor mempertimbangkan risiko geopolitik di Timur Tengah serta kemungkinan langkah pemerintah AS untuk melonggarkan pembatasan terhadap armada kapal tanker yang dikenal sebagai shadow fleet.

Baca Juga: Perusahaan Israel Diduga Gunakan Iklan Digital untuk Memata-matai Pengguna

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap sejumlah kapal yang termasuk dalam armada tersebut. Kapal-kapal itu diketahui mengangkut minyak dan produk petroleum dari sejumlah negara, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela.

Seorang pejabat AS mengatakan pada Rabu bahwa langkah tersebut dipertimbangkan untuk membantu menurunkan tarif pengangkutan barang global yang telah mencapai rekor tertinggi.

Di sisi lain, meningkatnya konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman serta kembali terjadinya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut masih menjadi faktor pendukung harga minyak.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,4% menjadi US$ 105,51 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,6% menjadi US$ 97,43 per barel.