KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Asia
rebound setelah tekanan jual saham teknologi mereda, tetapi pasar saham Indonesia justru terpuruk setelah MSCI mengusulkan penurunan status pasar Indonesia dari
emerging market. Perbedaan arah ini mencerminkan tekanan spesifik yang dihadapi Indonesia di tengah gejolak pasar global akibat kekhawatiran pendanaan industri kecerdasan buatan (AI). Mengutip
Reuters, Jumat (16/10/2026), indeks saham Indonesia anjlok 11%, menjadi penurunan terdalam sejak 1998.
Pelemahan ini terjadi setelah penyedia indeks global MSCI menyatakan pasar saham Indonesia tidak lagi memenuhi kriteria untuk menyandang status pasar berkembang (emerging market).
Baca Juga: Bursa Asia Berusaha Bangkit Kamis (30/7) usai Ambruk, Sikap The Fed Bikin Galau MSCI tengah menyiapkan langkah untuk mengeluarkan pasar saham Indonesia dari sejumlah produk investasi yang menjadi acuan investor global. Jika terealisasi, keputusan tersebut berpotensi memicu arus keluar dana asing dan menambah tekanan terhadap pasar saham domestik. Tan Altundag, manajer investasi ekuitas negara berkembang di Pictet Asset Management, menilai usulan tersebut mencerminkan ketidakpuasan MSCI terhadap lambatnya reformasi pasar modal Indonesia. "Implikasi investasinya bisa signifikan," kata Altundag. Ia menambahkan, langkah tersebut menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai kelayakan pasar Indonesia sebagai tujuan investasi. Di tengah tekanan terhadap Indonesia, mayoritas bursa saham Asia justru bangkit setelah aksi jual besar-besaran pada perdagangan sehari sebelumnya. Investor mulai kembali masuk ke pasar setelah gejolak saham teknologi yang dipicu kekhawatiran terhadap pembiayaan industri AI mereda. Indeks Nikkei Jepang menguat 1,9%, memulihkan sebagian penurunan hampir 5% pada Kamis (15/10/2026). Indeks Kospi Korea Selatan naik 3,3% setelah sebelumnya anjlok hampir 8%.
Baca Juga: Bursa Asia Rebound, IHSG Anjlok 11% Setelah MSCI Soroti Status Pasar Indonesia Indeks saham Taiwan bertambah 0,3%, sedangkan Hang Seng Hong Kong naik 1%. Sementara itu, indeks saham unggulan China daratan bergerak relatif stagnan. Tekanan di pasar global sebelumnya dipicu kekhawatiran terhadap besarnya utang perusahaan komputasi awan CoreWeave, yang didukung Nvidia. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan pembiayaan investasi besar-besaran di sektor AI dan memicu aksi jual saham teknologi secara luas. Saham CoreWeave mulai menunjukkan pemulihan pada Kamis, setelah sempat melanjutkan penurunan 15,5% sehari sebelumnya. Kekhawatiran juga muncul dari meningkatnya persaingan di industri cip memori setelah perusahaan China, ChangXin Memory Technologies (CXMT), melaporkan kemajuan dalam pengembangan arsitektur DRAM generasi berikutnya. Analis pasar Capital.com Kyle Rodda menilai volatilitas kembali meningkat di berbagai kelas aset, mulai dari saham, obligasi, valuta asing, hingga komoditas. Menurut dia, gejolak berpotensi berlanjut seiring investor mencermati laporan keuangan perusahaan teknologi dalam beberapa pekan mendatang serta arah suku bunga utama. Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah stabil setelah turun tajam pada Kamis, ketika investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman. Penurunan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) turut menekan dolar AS. Indeks dolar AS berada di bawah level 102 dan menuju penurunan mingguan pertama dalam lima pekan, dengan pelemahan sekitar 0,3%.
Baca Juga: Pertahankan Indonesia Di Emerging Market 2026, MSCI Juga Beri Nilai Positif Ini Euro menguat ke US$ 1,1226, sedangkan pound sterling naik ke US$ 1,3295. Dolar AS relatif stabil di posisi 157,86 yen Jepang. Harga emas melanjutkan penguatan dan naik tipis ke sekitar US$ 4.173 per ons troi setelah melonjak 1,6% pada Kamis, seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman. Sementara itu, harga minyak bergerak melemah di tengah tarik-menarik antara risiko geopolitik di Timur Tengah dan kemungkinan pelonggaran sanksi AS terhadap sebagian kapal tanker yang mengangkut minyak dari negara-negara seperti Rusia, Iran, dan Venezuela. Harga minyak mentah Brent turun 0,7% menjadi US$ 105,14 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga melemah 0,7% ke level US$ 97,26 per barel. Meski demikian, eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman serta kembali terjadinya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut masih menjadi faktor yang menopang harga minyak.
Baca Juga: Bursa Asia Bangkit, Saham Thailand Sentuh Level Tertinggi Lebih dari Tiga Tahun Di tengah pemulihan mayoritas bursa Asia, tekanan terhadap Indonesia menjadi perhatian tersendiri. Gejolak global akibat sektor teknologi dan perubahan ekspektasi suku bunga kini beriringan dengan risiko domestik yang dapat memengaruhi kepercayaan investor serta arus modal ke pasar saham Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News