KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia melemah dari level rekor tertinggi pada perdagangan Jumat (26/6/2026). Kenaikan harga produk Apple memicu kekhawatiran bahwa lonjakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI) mulai mendorong inflasi dan menekan margin perusahaan teknologi.
Baca Juga: Rupiah Jadi Mata Uang Asia Terlemah Hari Ini, Tertekan Bersama Baht Thailand Mengutip
Reuters, kontrak berjangka Nasdaq turun 0,6% pada perdagangan Asia setelah saham Apple anjlok 6,1% pada perdagangan sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi setelah Apple mengumumkan kenaikan harga iPad dan MacBook guna mengimbangi lonjakan biaya chip memori dan penyimpanan data. Akibatnya, nilai kapitalisasi pasar Apple menyusut sekitar US$ 250 miliar dalam sehari. Di saat yang sama, Microsoft juga mengumumkan kenaikan harga konsol gim Xbox hingga US$ 150 di berbagai negara. Langkah kedua perusahaan teknologi raksasa itu meredam optimisme investor terhadap sektor AI, meskipun sebelumnya produsen chip Micron Technology membukukan kinerja yang jauh melampaui ekspektasi. Saham Micron melonjak hampir 16% dan mencetak rekor tertinggi setelah laporan keuangan yang kuat. CEO deVere Group Nigel Green mengatakan, laporan Micron dan Apple memberikan dua pesan berbeda kepada pasar. "Micron menunjukkan di mana keuntungan berada, sedangkan Apple menunjukkan dari mana inflasi berasal," ujarnya. Menurut Green, perlombaan membangun infrastruktur AI telah membuat permintaan chip memori berteknologi tinggi jauh melampaui pasokan. "Keputusan Apple menaikkan harga menjadi peringatan awal bahwa inflasi mulai menemukan jalur baru ke dalam perekonomian," katanya. Selain itu, analis juga menilai aksi penyesuaian portofolio menjelang akhir bulan dan akhir kuartal turut menekan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar yang selama kuartal II menjadi motor penguatan pasar.
Baca Juga: Won Diperdagangkan 24 Jam Mulai Juli, Bank-bank Korea Selatan Siaga Tambah Shift Bursa Asia kompak melemah Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 1,7% pada Jumat, sehingga memperbesar penurunan mingguan menjadi 3,4%. Padahal, indeks tersebut baru mencetak rekor tertinggi pada awal pekan. Secara bulanan, indeks masih turun 1,6%, namun tetap melonjak sekitar 24% sepanjang kuartal II. Di Jepang, indeks Nikkei merosot 3% dan berada di jalur penurunan mingguan sekitar 1,3%. Meski demikian, Nikkei masih mencatat kenaikan 6% sepanjang bulan ini dan melonjak 38% selama kuartal II. Indeks KOSPI Korea Selatan bahkan terkoreksi 3,5% pada perdagangan hari itu dan turun sekitar 5% dalam sepekan. Namun secara kuartalan, KOSPI masih mencatat lonjakan sekitar 70%. Sementara itu, saham-saham unggulan China turun 1%, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,3%.
Baca Juga: Nikkei Melonjak 37%, Investor Jepang Berburu Saham AI Generasi Ketiga Yen tetap lemah, dolar AS bertahan kuat Di pasar valuta asing, yen Jepang masih bertahan di dekat level terlemahnya dalam 40 tahun terhadap dolar Amerika Serikat, yakni di kisaran 161,82 yen per dolar AS. Nilai tukar tersebut jauh melewati level 160 yen yang selama ini dianggap sebagai batas psikologis bagi otoritas Jepang untuk melakukan intervensi di pasar. Yen hanya memperoleh sedikit dukungan meskipun data inflasi Amerika Serikat sesuai ekspektasi dan pelaku pasar mulai mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September. Indeks dolar AS bertahan di level 101,46, tidak jauh dari posisi tertinggi sejak Mei 2025. Sepanjang bulan ini, indeks dolar telah menguat sekitar 2,6%. Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun stabil di 4,125%, sedangkan yield obligasi tenor 10 tahun bertahan di 4,402%, setelah sempat menyentuh level terendah hampir dua bulan pada sesi sebelumnya.
Baca Juga: Bos Kripto China Buron, Diduga Terkait Penipuan Investasi dan Judi Online Emas dan perak alami tekanan Tekanan juga terjadi di pasar logam mulia. Harga emas spot telah turun sekitar 11% sepanjang bulan ini ke kisaran US$ 4.020 per ons, sedangkan harga perak spot merosot sekitar 24% menjadi US$ 57,3 per ons, mencerminkan berkurangnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah penguatan dolar AS.