KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia terperosok pada perdagangan Senin (30/3/2026), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap konflik berkepanjangan di kawasan Teluk yang mendorong lonjakan harga minyak dan risiko inflasi global. Melansir
Reuters, indeks saham di kawasan kompak melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 4,7%, memperpanjang penurunan sepanjang Maret menjadi hampir 14%. Sementara pasar Korea Selatan turun 4,2%, dan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terkoreksi 1,2%.
Baca Juga: Bursa Australia Terseret Konflik Timur Tengah Senin (30/3), Indeks ASX Ambles 1,3% Tekanan pasar dipicu lonjakan harga energi setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat, termasuk ancaman gangguan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia. Harga minyak mentah jenis Brent crude naik 3% ke level US$115,98 per barel, dengan kenaikan bulanan mencapai sekitar 60%. Lonjakan ini bahkan melampaui kenaikan saat invasi Irak ke Kuwait pada 1990. Sementara itu, minyak mentah AS menguat 3% ke US$102,52 per barel, dengan kenaikan bulanan sekitar 53%. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran lonjakan inflasi global dan meningkatkan risiko resesi di berbagai negara, terutama di Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Aluminium LME Naik 6% Dekati Rekor Tertinggi 4 Tahun, Iran Serang Smelter Teluk Analis Commonwealth Bank of Australia menilai, konflik berpotensi berlangsung hingga Juni atau bahkan lebih lama, dengan risiko eskalasi yang masih tinggi. Selain minyak, harga komoditas lain seperti gas, pupuk, plastik, hingga aluminium juga melonjak, yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan, obat-obatan, dan produk petrokimia. Kondisi ini mendorong pelaku pasar mengubah ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga global. Pasar kini memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan melakukan pengetatan sekitar 12 basis poin tahun ini, berbalik dari ekspektasi sebelumnya yang memprediksi pemangkasan suku bunga. Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan menyampaikan pandangannya dalam sebuah acara pada hari yang sama, sementara Presiden The Fed New York John Williams juga akan memberikan pernyataan.
Baca Juga: Moratorium E-commerce WTO di Ujung Tanduk: AS Ngotot Permanen, India Minta 2 Tahun Dari sisi pasar global, kontrak berjangka indeks saham utama juga melemah. Futures S&P 500 turun 0,7% dan Nasdaq melemah 0,9%. Di Eropa, futures EURO STOXX 50 dan DAX masing-masing turun 1,5%, sementara FTSE melemah 1%.
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik sekitar 47 basis poin sepanjang bulan ini menjadi 4,428%, mencerminkan tekanan dari lonjakan inflasi dan kebutuhan pembiayaan yang lebih besar. Sementara itu, dolar AS menguat sebagai aset likuid utama, didukung status Amerika Serikat sebagai eksportir energi bersih, yang memberikan keunggulan dibandingkan Eropa dan Asia. Di pasar komoditas, harga emas justru turun 1% ke level US$4.445 per ons troi, meski biasanya menjadi aset lindung nilai saat ketidakpastian meningkat. Secara keseluruhan, lonjakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik menjadi tekanan utama bagi pasar global, dengan risiko inflasi dan perlambatan ekonomi yang semakin meningkat.