KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia Tenggara melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026), di tengah kenaikan harga minyak mentah di atas US$90 per barel dan aksi jual di pasar obligasi global. Tekanan tersebut muncul seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi dan potensi pengetatan kebijakan moneter global. Kondisi ini membuat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko di pasar negara berkembang.
Baca Juga: Ekspansi Mobil China Makin Agresif, Beijing Perketat Aturan Main Melansir
Reuters, Indeks MSCI ASEAN turun 0,3% ke level terendah dalam dua pekan. Pelemahan terutama dipimpin oleh indeks FTSE Straits Times Singapura dan indeks acuan saham Malaysia. Sementara itu, indeks saham negara-negara berkembang Asia yang lebih luas justru naik 0,5%, ditopang penguatan saham Taiwan sebesar 1,8% setelah sebelumnya mencapai level tertinggi hampir dua bulan. Indeks KOSPI Korea Selatan juga menguat 0,2% pada perdagangan sore.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Selasa (1/9), Yen Tertekan Lewati Level 160 per Dolar Bursa Malaysia Tertekan Arus Dana Asing Di Malaysia, indeks saham turun 1,3% setelah sebelumnya sempat anjlok hingga 1,6%. Pelemahan tersebut menjadi penurunan intraday terburuk sejak Maret. Tekanan berasal dari penurunan saham sektor perbankan, industri dan konsumer secara luas. Ekonom Sunway University Jeffrey Cheah Institute on Southeast Asia Yeah Kim Leng mengatakan, tekanan makro global semakin memperburuk kondisi pasar saham Asia. "Gejolak makro global, mulai dari konflik AS-Iran dan lonjakan harga minyak hingga kenaikan imbal hasil US Treasury, membebani saham Asia. Tekanan domestik kemudian memperdalam penurunan di sejumlah pasar," kata Leng. Khusus Malaysia, tekanan tersebut diperburuk oleh aksi jual investor asing yang terus berlangsung dan turut menekan ringgit. "Prospek KLSE dalam beberapa pekan mendatang sangat bergantung pada apakah level psikologis 1.700 dapat dipertahankan," ujar Leng.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Konflik AS-Iran Kembali Ancam Pasokan Global Saham Singapura Ikut Melemah Di Singapura, indeks acuan turun 0,4% setelah sebelumnya terkoreksi hingga 0,8%. Pelemahan terutama dipimpin oleh saham sektor keuangan, teknologi dan konsumer. Sementara dari pasar valuta asing, ringgit Malaysia melemah sekitar 0,3% terhadap dolar AS. Won Korea Selatan juga turun 0,3%, sedangkan baht Thailand melemah 0,2%. Rupiah Indonesia turut tertekan sekitar 0,1% terhadap dolar AS.
Baca Juga: Swiss Life Pangkas 600 Pekerjaan Investor Pantau Harga Minyak dan The Fed Kenaikan harga minyak menjadi salah satu perhatian utama pasar setelah kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Harga minyak Brent menembus US$90 per barel sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Pada saat yang sama, aksi jual di pasar obligasi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah global ke level tertinggi baru. Yield US Treasury tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak awal 2025, sementara yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3% untuk pertama kalinya dalam satu generasi.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral akan mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneter untuk meredam inflasi.
Baca Juga: OpenAI Bantah Tuduhan Apple Investor kini menanti data nonfarm payrolls Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis Jumat (4/9/2026). Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), terutama setelah pasar meningkatkan ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS. Selain data tenaga kerja AS, investor juga akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap harga energi dan prospek inflasi global.