Bursa Asia Terkoreksi dari Rekor Jumat (13/2) Pagi, Saham Teknologi Terpukul



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Asia terkoreksi dari level tertinggi sepanjang masa pada Jumat (13/2/2026), menyusul kekhawatiran menyusutnya margin sektor teknologi yang menekan saham-saham raksasa seperti Apple.

Investor pun beralih ke aset safe haven menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang krusial.

Melansir Reuters, Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6%, memangkas kenaikan mingguan menjadi 4,1%. Indeks Nikkei Jepang melemah 0,9% namun masih menguat 5,3% sepanjang pekan ini.


Baca Juga: Emas dan Perak Bangkit dari Level Terendah Sepekan Jumat (13/2) Pagi, Ini Pemicunya

Saham blue chip China turun 0,6%, sementara indeks Hang Seng Hong Kong tergelincir 1,5%.

Kontrak berjangka Nasdaq dan S&P 500 masing-masing naik tipis 0,1%, sedangkan EURO STOXX 50 futures menguat 0,2%.

Sentimen negatif berawal dari Wall Street. Indeks berbasis teknologi Nasdaq Composite anjlok 2% setelah Cisco Systems melaporkan margin kotor kuartalan yang disesuaikan di bawah ekspektasi akibat lonjakan biaya chip memori.

Saham Cisco merosot 12% dan menghapus sekitar US$40 miliar kapitalisasi pasarnya.

Tekanan menjalar ke saham-saham teknologi besar lainnya. Apple ambles 5%, mencatat penurunan harian terbesar sejak April tahun lalu ketika tarif besar-besaran "Liberation Day" Presiden AS Donald Trump mengguncang pasar.

Baca Juga: Kinerja Moncer, Gaji CEO Citigroup Jane Fraser Naik 22% Menjadi US$42 Juta

Kekhawatiran juga merembet ke sektor transportasi, yang terseret sentimen disrupsi kecerdasan buatan (AI).

“Pasar kini menunjukkan rotasi ke sektor-sektor defensif dengan pendapatan yang lebih stabil dan dapat diprediksi,” ujar Chris Weston, Head of Research Pepperstone.

Investor, katanya, mulai memandang perkembangan AI dan artificial general intelligence (AGI) dengan perspektif baru yang lebih berhati-hati.

Obligasi Diburu, Imbal Hasil Turun

Aksi jual saham mendorong pembelian obligasi pemerintah AS. Imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun turun 7 basis poin semalam, penurunan terbesar sejak 10 Oktober dan stabil di 4,1154% pada perdagangan Asia.

Baca Juga: Gubernur The Fed: Kebijakan Moneter Terlalu Ketat, Inflasi Bukan Ancaman Utama

Lelang obligasi 30 tahun yang kuat turut menekan yield tenor panjang. Yield 30 tahun merosot 8,5 basis poin ke 4,728%, terendah sejak 3 Desember.

Pasar kini kembali mempertimbangkan peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Juni. Kontrak berjangka Fed funds menunjukkan peluang 70% untuk pemangkasan pada Juni, dengan total pelonggaran sekitar 60 basis poin diperkirakan terjadi tahun ini.

Fokus utama pelaku pasar tertuju pada data inflasi AS yang akan dirilis malam nanti. Konsensus memperkirakan inflasi inti bulanan naik 0,3%, cukup untuk menurunkan laju tahunan menjadi 2,5% dari sebelumnya 2,7%.

Emas dan Perak Bangkit

Logam mulia mencoba bangkit dari tekanan tajam sebelumnya. Harga emas naik 1% ke US$4.972 per ons setelah sempat terperosok lebih dari 3% sehari sebelumnya. Perak melonjak 2% ke US$76,8 per ons, usai anjlok 10% semalam.

Baca Juga: Yen Menuju Kinerja Mingguan Terbaik dalam 15 Bulan Usai Kemenangan Takaichi

Di pasar valuta asing, dolar Australia dan dolar Selandia Baru yang sensitif terhadap risiko terkoreksi. Aussie stabil di US$0,7089 setelah turun 0,5%, sementara kiwi di US$0,6033.

Harga minyak relatif datar setelah anjlok 3% semalam akibat melemahnya permintaan, meredanya ketegangan Timur Tengah, dan ekspektasi peningkatan pasokan.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik tipis 0,2% ke US$62,95 per barel, sedangkan Brent menguat 0,2% ke US$67,65 per barel.

Selanjutnya: IHSG Koreksi Lagi (13/2), Ini Saham LQ45 yang Menguat dan Turun

Menarik Dibaca: IHSG Koreksi Lagi (13/2), Ini Saham LQ45 yang Menguat dan Turun