Bursa Asia Tersungkur Dihantam Perang Iran dan Lonjakan Minyak



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia kompak melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan aksi jual investor global.

Bursa Saham Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 4% ke level 6.425,95 dan memperpanjang pelemahan selama lima hari berturut-turut. Secara year to date, IHSG sudah terkoreksi lebih dari 25%.

Kemudian, pasar India juga termasuk yang mengalami tekanan. Indeks Nifty 50 turun 1,26% ke 23.347,2, sedangkan BSE Sensex melemah 1,2% ke 74.335,62. Nilai tukar rupee juga sempat menyentuh rekor terendah baru akibat lonjakan harga minyak dan keluarnya dana asing.


Tekanan pasar dipicu serangan drone yang menyebabkan kebakaran di pembangkit listrik tenaga nuklir Uni Emirat Arab, serta peringatan Presiden AS Donald Trump bahwa “waktu terus berjalan” bagi Iran untuk mencapai kesepakatan damai.

Baca Juga: Bursa Asia Tinggalkan Rekor Tertinggi, Lonjakan Harga Minyak Picu Kekhawatiran

Harga minyak Brent melonjak hingga US$112 per barel, tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan harga energi itu memicu kekhawatiran inflasi global dan potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Pendiri Equinomics Research, G. Chokkalingam, mengatakan pasar masih akan tertekan dalam jangka pendek akibat konflik Timur Tengah. "Kenaikan harga minyak memperbesar tekanan terhadap rupee dan memicu arus keluar dana asing dari pasar saham India," ujarnya.

Sepanjang tahun ini, investor asing tercatat telah melepas saham India senilai US$23,52 miliar, melampaui total arus keluar sepanjang 2025.

Saham-saham unggulan India ikut terseret turun. HDFC Bank melemah 1,4%, Reliance Industries turun 1%, dan Tata Steel anjlok 5% setelah laba kuartalannya di bawah ekspektasi pasar. Sementara itu, saham Gland Pharma justru melonjak 13,4% usai laba bersih kuartalannya naik 97%.

Sentimen negatif juga membayangi pasar China dan Hong Kong. Indeks Shanghai Composite turun 0,2%, CSI300 melemah 0,7%, dan Hang Seng Hong Kong jatuh 1,4%.

Selain perang Iran, pasar China tertekan data ekonomi April yang lebih lemah dari perkiraan. Output industri dan penjualan ritel melambat di tengah mahalnya energi dan lemahnya permintaan domestik.

Baca Juga: Perang Iran Dorong Minyak ke Rekor Selasa (31/3), Bursa Asia Rugi Terbesar Sejak 2022

Ekonom Nomura, Lu Ting, menilai pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping hanya memberi stabilisasi jangka pendek bagi pasar.

"KTT tersebut membantu menjaga stabilitas hubungan AS-China, tetapi belum cukup kuat mengangkat optimisme pasar," katanya.

Di China, saham consumer staples turun 1,5%, sementara saham pertanian melemah lebih dari 2% setelah Beijing disebut akan meningkatkan pembelian produk pertanian AS mulai 2026. Sebaliknya, saham produsen chip menguat setelah AS memberi sinyal isu pembatasan ekspor semikonduktor belum menjadi fokus utama pembicaraan dagang kedua negara.