Bursa Asia Tertahan Kamis (28/5), Konflik Timur Tengah & Ancaman Inflasi Membayangi



KONTAN.CO.ID - Pergerakan bursa saham Asia cenderung tertahan pada perdagangan Kamis (28/5) setelah serangan militer terbaru Amerika Serikat (AS) ke Iran mengguncang optimisme investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.

Pelaku pasar juga mulai berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi pasar obligasi dan arah suku bunga global.

Harga minyak dunia melonjak sekitar 2% seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Teluk.


Baca Juga: Insinyur Google Didakwa Manipulasi Taruhan Polymarket, Raup Untung US$1,2 Juta

Imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury ikut naik setelah Presiden AS Donald Trump membantah laporan Iran terkait adanya kesepakatan untuk memulihkan lalu lintas di Selat Hormuz.

Analis geo-ekonomi senior Commonwealth Bank of Australia (CBA), Madison Cartwright, memperkirakan dalam dua pekan ke depan terdapat dua kemungkinan utama, yakni tercapainya kesepakatan gencatan senjata baru atau justru konflik kembali memanas.

“Kami memperkirakan peluang tercapainya kesepakatan sekitar 70%, namun nasib Selat Hormuz masih belum pasti,” ujarnya.

Ia menambahkan biaya asuransi pelayaran melalui Selat Hormuz kini melonjak tajam sehingga menjadi sangat mahal.

Baca Juga: Bank Sentral Korea Pertahankan Suku Bunga 2,50%, Waspadai Dampak Perang Iran

Selain itu, belum jelas apakah Iran akan mengenakan tarif atau pungutan tertentu terhadap kapal yang melintas.

Di tengah terbatasnya arus pelayaran di selat tersebut, harga minyak Brent melonjak 2,3% menjadi US$ 96,50 per barel. Sementara minyak mentah AS naik 2,2% ke level US$ 90,59 per barel.

Kenaikan harga minyak turut mendorong naik imbal hasil Treasury tenor 10 tahun sebesar 2 basis poin menjadi 4,502%, karena pasar khawatir tekanan inflasi akan bertahan lebih lama.

Sentimen tersebut juga mengurangi reli saham global yang sebelumnya ditopang sektor teknologi.

Baca Juga: Pejabat The Fed Wanti-wanti Risiko Inflasi dari Konflik Timur Tengah

Indeks Nikkei Jepang turun 0,2%, saham Korea Selatan bergerak datar, sementara indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,1%.

Dari Jepang, laporan media menyebut pemerintah berencana menerbitkan “bridging bonds” guna membiayai program investasi strategis dan penguatan keamanan ekonomi.

Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing turun 0,2%, sedangkan FTSE futures melemah 0,3%. Sebaliknya, futures S&P 500 dan Nasdaq naik tipis 0,1%.

Fokus pasar kini beralih ke data personal consumption expenditures (PCE) Amerika Serikat, indikator inflasi pilihan Federal Reserve (The Fed).

Kenaikan harga energi diperkirakan akan mendorong inflasi utama PCE mencapai 3,8%, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Sementara inflasi inti diproyeksikan naik 0,3% secara bulanan atau mencapai 3,3% secara tahunan, jauh di atas target The Fed sebesar 2%.

Baca Juga: Trump Tak Peduli Pemilu Sela AS, Yakin Bisa Tekan Iran Lebih Lama

Kondisi tersebut mendorong semakin banyak pejabat The Fed menyerukan penghentian bias pelonggaran kebijakan moneter, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan.

Analis National Australia Bank (NAB) menilai, The Fed kini menghadapi risiko dua arah, yakni inflasi yang masih tinggi dan dampak konflik geopolitik terhadap pertumbuhan ekonomi yang belum pasti.

Menurut NAB, ketidakpastian tersebut menjadi alasan bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir 2027.

Namun jika inflasi sektor jasa terus menguat, maka peluang kebijakan suku bunga tinggi lebih lama akan semakin besar.

Pasar saat ini memperkirakan peluang 50% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,0% pada akhir tahun.

Ekspektasi tersebut turut menopang penguatan dolar AS. Indeks dolar tercatat berada di level 99,291 terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.

Baca Juga: AS Dikabarkan Menyerang Situs Militer Iran, Prospek Kesepakatan Damai Memudar?

Dolar AS juga menguat ke level tertinggi empat pekan terhadap yen Jepang di posisi 159,57, mendekati level psikologis 160 yang sebelumnya memicu intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.

Sementara euro melemah tipis ke US$ 1,1620, meskipun masih mendapat dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) pada pertemuan Juni mendatang.

Kepala Ekonom ECB Philip Lane menegaskan pentingnya mencegah lonjakan harga energi memicu kenaikan ekspektasi inflasi yang lebih luas.

Di pasar komoditas, harga emas turun 0,3% menjadi US$ 4.445 per ons, karena kembali gagal menarik minat investor sebagai aset safe haven maupun lindung nilai terhadap inflasi.