KONTAN.CO.ID - Mayoritas bursa saham Asia melemah pada perdagangan Rabu (7/10/2026), tertekan kenaikan harga minyak mentah yang kembali menembus US$100 per barel serta imbal hasil US Treasury yang bertahan di level tinggi. Mengutip
Reuters, Rabu (7/10/2026), pelemahan pasar saham negara berkembang di Asia dipimpin bursa Singapura dan Korea Selatan. Investor mengurangi minat terhadap aset berisiko karena kenaikan harga energi meningkatkan kekhawatiran inflasi, sementara yield obligasi pemerintah AS yang tinggi berpotensi menarik aliran dana keluar dari pasar negara berkembang.
Baca Juga: Laba PIK Dua (PANI) Meroket 483%, Analis Ungkap Prospek dan Katalis hingga Akhir 2026 Harga minyak kembali berada di atas US$100 per barel setelah badai yang menuju wilayah produksi minyak Amerika Utara dan serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan. Di sisi lain, yield US Treasury bertahan di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir yang dicapai pada awal pekan. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS sekaligus menjadi tekanan bagi pasar negara berkembang. “Latar belakang makroekonomi yang membebani kawasan ini sepanjang September belum membaik secara material. Investor tidak sepenuhnya meninggalkan pasar negara berkembang Asia, tetapi mereka masih enggan menambah risiko karena langkah Federal Reserve berikutnya terkait suku bunga masih belum pasti,” kata Inki Cho, senior financial market strategist di platform perdagangan Exness. Investor kini menunggu risalah pertemuan The Fed pada September untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya. Pada pertemuan tersebut, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Baca Juga: Ada Transaksi Jumbo Saham BYAN Rp 26,1 Triliun Rabu (7/10), di Harga Rp 2.588 India kembali naikkan suku bunga Tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi juga mendorong bank sentral di kawasan Asia memperketat kebijakan moneter. Reserve Bank of India (RBI) pada Rabu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Ini menjadi kenaikan suku bunga pertama India dalam hampir empat tahun. Kebijakan tersebut diambil ketika ekonomi India menghadapi tekanan inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak akibat konflik Iran. “Kenaikan RBI mengonfirmasi tren regional, bukan justru menyimpang darinya,” ujar Cho. Menurut dia, Indonesia dan Filipina sebelumnya juga telah mengambil langkah kenaikan suku bunga di luar jadwal reguler. Kesamaan dari kebijakan tersebut adalah tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak yang dipicu gangguan di Timur Tengah, ditambah penguatan dolar AS yang membuat bank sentral negara berkembang Asia harus meninjau kembali kecenderungan pelonggaran moneter yang sebelumnya ditempuh. Rupee India relatif stabil di sekitar 96,36 per dolar AS setelah keputusan RBI.
Baca Juga: Jumlah Investor Naik Pesat, Harga Saham Perusahaan Bahan Kimia Ini Melonjak 37% Bursa Asia mayoritas melemah Tekanan terlihat di sejumlah bursa utama Asia. Saham-saham Korea Selatan yang berkaitan dengan sektor teknologi turun hingga 1,4%. Investor bersikap hati-hati menjelang publikasi laporan awal kinerja kuartalan Samsung Electronics pada Kamis. Investor akan mencermati kinerja produsen chip tersebut untuk melihat prospek permintaan cip yang berkaitan dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Bursa Singapura turun hingga 1,6% dan menyentuh level terendah dalam dua bulan. Sementara indeks saham Malaysia melemah 1,2% ke level terendah sejak Desember 2025. Di Indonesia, IHSG yang sempat menguat pada awal perdagangan berbalik melemah 0,7%.
Baca Juga: Pos Indonesia Gagal Bayar Bunga Obligasi Rp 11,75 Miliar, Ini Penjelasannya Tekanan terhadap aset Indonesia terjadi menjelang evaluasi MSCI pada November mendatang terkait berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah dan regulator untuk meningkatkan transparansi serta daya investabilitas pasar modal Indonesia. Sementara itu, FTSE Russell dalam pengumuman klasifikasi negara untuk pasar pendapatan tetap pada September menyatakan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market masih belum berubah. FTSE Russell masih memantau perkembangan reformasi terkait integritas pasar modal Indonesia.
Di pasar valuta asing, mayoritas mata uang Asia relatif stabil terhadap dolar AS yang juga bergerak mendatar. Baht Thailand menjadi salah satu mata uang yang melemah, yakni sekitar 0,3%. Indeks saham negara berkembang Asia versi MSCI turun 0,3%, sedangkan indeks mata uang negara berkembang relatif tidak berubah.
Baca Juga: SMLE Siapkan Rencana Aksi Korporasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News