KONTAN.CO.ID - Saham-saham Asia tertekan pada Jumat (13/3/2026), berpotensi mencatat penurunan mingguan kedua berturut-turut, karena harapan cepat akan resolusi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran semakin menipis. Kenaikan harga minyak yang mendekati level US$100 per barel semakin menambah kekhawatiran inflasi dan menekan pasar global. Dolar AS tetap menjadi pilihan aman di tengah gejolak ini, membuat mayoritas mata uang lain berada di bawah tekanan. Sejak awal perang akhir Februari, dolar telah naik sekitar 2% dan diproyeksikan mencatat kenaikan mingguan kedua.
Baca Juga: Meski Dilarang, Satu dari Lima Remaja Australia Masih Gunakan TikTok dan Snapchat Harga minyak sedikit turun pada perdagangan Jumat pagi setelah AS mengeluarkan lisensi 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak dan produk minyak Rusia yang terdampar di laut. Brent futures berada di level US$99,85 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) di US$95,05 per barel. Di Asia, indeks MSCI Asia-Pasifik melemah 0,5%, berpotensi turun 1,5% sepanjang minggu. Indeks Nikkei Jepang turun 1,3%, saham teknologi Korea Selatan hampir turun 2%, dan pasar Taiwan melemah 1%. Iran memperkuat serangan di seluruh Timur Tengah, sementara Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan akan menutup Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap AS dan Israel. Investor kini bersiap menghadapi konflik berkepanjangan dan potensi harga minyak lebih tinggi.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Tertekan Jumat (13/3), Berpotensi Catat Penurunan Mingguan Kedua Tekanan Inflasi dan Suku Bunga Spekulasi kenaikan inflasi akibat harga minyak mendorong pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap bank sentral. Pedagang kini hanya memperkirakan pemangkasan suku bunga Federal Reserve sebesar 20 basis poin dibanding 50 basis poin bulan lalu. "Pasar sebelumnya menanti pemangkasan Fed tahun ini, tetapi eskalasi ke Iran membuat justifikasi itu hilang," kata Prashant Newnaha, senior rates strategist di TD Securities. "Pasar kini menyesuaikan untuk tingkat suku bunga terminal yang lebih tinggi." Jual-beli saham dan obligasi global menunjukkan volatilitas yang tinggi. Saham AS turun tajam semalam, sementara yield Treasury AS dua tahun mencapai level tertinggi enam bulan terakhir. "Investor harus siap menghadapi volatilitas lebih lanjut dan potensi penurunan jangka pendek," ujar Vasu Menon, managing director strategi investasi OCBC di Singapura.
Baca Juga: Yuan China Menguat ke Level Tertinggi Setahun terhadap Mata Uang Mitra Dagang Utama Fokus Pasar Minggu Depan Investor kini menantikan serangkaian rapat bank sentral pekan depan, termasuk Fed, Bank of Japan, European Central Bank, dan Bank of England.
Mayoritas diperkirakan tidak akan mengubah suku bunga. Reserve Bank of Australia diprediksi akan menaikkan suku bunga. Di pasar mata uang, euro diperdagangkan di $1,1527, sedikit menguat tapi masih mencatat penurunan mingguan hampir 1%. Indeks dolar berada di 99,599, berpotensi naik 0,8% sepanjang minggu. Yen menguat tipis ke 159,13 per dolar. Harga emas naik 0,7% ke $5.114 per ounce, meski masih berpotensi turun 1% sepanjang minggu.