KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia kembali terseret dalam tekanan global pada Jumat (27/3/2026), mengikuti tren Wall Street yang melemah, seiring ancaman gejolak energi berkepanjangan dari perang di Timur Tengah yang mendorong biaya pinjaman melonjak. Melansir
Reuters, investor sempat mendapatkan sedikit sentimen positif setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang ultimatum serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama 10 hari, setelah sebelumnya menunda tenggat awal 48 jam sebanyak lima hari. Harga minyak Brent turun 1% ke US$107,07 per barel, setelah sempat melonjak hampir 6% semalam.
Baca Juga: Ancaman Konflik Iran: Dunia Terguncang, Rusia Justru Panen Cuan dari Minyak Namun, pergerakan harga minyak relatif kecil dan laporan bahwa Trump mempertimbangkan pengiriman lebih banyak pasukan justru menambah kekhawatiran perang dapat meluas menjadi konflik darat. Sementara tidak ada kepastian bahwa Selat Hormuz dapat dibuka kembali untuk pengiriman minyak dalam waktu dekat. Iran menolak proposal AS untuk mengakhiri konflik, menyebutnya “sepihak dan tidak adil.” Futures Wall Street naik tipis 0,2% di Asia, sementara Nasdaq Composite semalam anjlok 2,4%, dan kini turun hampir 11% dari rekor tertutup pada 29 Oktober, menandakan pasar masih dalam koreksi.
Baca Juga: Laba Industri China Melonjak di Awal 2026, Tanda Pemulihan Ekonomi “Berita Timur Tengah tidak akan berhenti sepanjang akhir pekan, sehingga uang cenderung bersikap risk-off karena AS terus menambah sumber daya militer di kawasan,” kata Sean Callow, analis FX senior ITC Markets. “Banyak pihak melihat rezim Iran memegang kendali, dan meragukan adanya negosiasi produktif dengan AS. Tekanan terhadap harga minyak yang lebih tinggi, dolar AS, dan imbal hasil obligasi tetap ada, sementara saham melemah.” Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 1,4% pada Jumat dan berpotensi turun 3% dalam sepekan. Nikkei Jepang anjlok 1,3% dan turun 0,9% untuk pekan ini. KOSPI Korea Selatan terpeleset 3%, sehingga kerugian pekanannya mencapai 8,5%. Saham unggulan China turun 1%, sementara Hang Seng Hong Kong melemah 0,4%.
Baca Juga: OECD Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2027 Analis Citi memperingatkan skenario perang Timur Tengah yang lebih parah dapat menekan pertumbuhan global di bawah 2% tahun ini, mendorong inflasi lebih dari 4%, dan meningkatkan risiko resesi. “Asia, khususnya Korea, Jepang, dan India, menghadapi hambatan paling berat karena ketergantungan tinggi pada bahan bakar impor dan paparan langsung terhadap gangguan di Selat Hormuz,” tulis mereka. Imbal Hasil Obligasi Global Melejit Norges Bank Norwegia menjadi bank sentral terbaru yang memperingatkan risiko inflasi dan kemungkinan kenaikan suku bunga seiring berlanjutnya perang. Setelah menahan kebijakan pada Kamis, bank tersebut memperkirakan akan menaikkan suku bunga tahun ini, berbeda jauh dari perkiraan sebelumnya yang memproyeksikan tiga kali pemotongan hingga akhir 2028.
Baca Juga: Mayoritas Mata Uang Asia Melemah Jumat (27/3) Pagi, Peso Filipina Paling Tertekan Imbal hasil obligasi global kembali naik seiring kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi. Imbal hasil obligasi Jepang 10 tahun naik 4 basis poin ke 2,31%, sementara Australia melonjak 7 basis poin ke 5,076%. Imbal hasil Treasury AS dua tahun stabil di 3,9714%, setelah semalam naik 10 basis poin seiring pasar menilai risiko kenaikan suku bunga Federal Reserve meningkat tahun ini, dengan peluang sekitar 50% sudah tercermin di pasar.
Di pasar valuta, dolar AS menguat karena status safe-haven selama tiga hari berturut-turut. Dolar Australia yang sensitif risiko menjadi korban utama pelemahan pasar, turun 0,2% ke level terendah dua bulan di US$0,6872, setelah turun 0,8% semalam. Euro bertahan di US$1,1533 setelah sempat turun 0,3%, sedangkan yen menguat tipis ke 159,70 per dolar, dengan ekspektasi intervensi jika menyentuh 160. Emas naik 0,6% ke US$4.405 per ons troi setelah hampir turun 3% semalam.