KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia melemah pada perdagangan Senin (12/10/2026), tertekan aksi jual di Korea Selatan di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) yang belum sebanding dengan potensi imbal hasilnya. Tekanan juga melanda pasar saham Indonesia, sementara won Korea Selatan menguat ke level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Mengutip
Reuters, indeks saham negara berkembang Asia yang dihitung MSCI turun 0,8% ke level terendah sejak pertengahan September.
Pelemahan terutama dipicu pasar saham Korea Selatan yang memiliki bobot besar dalam indeks tersebut bersama Taiwan.
Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$100, Bursa Asia Catat Penurunan Terburuk Sepekan Indeks Kospi Korea Selatan ditutup anjlok 3,7% setelah kembali diperdagangkan usai libur panjang. Penurunan ini membawa Kospi ke level terendah sejak pertengahan Agustus. Saham produsen cip utama, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing merosot 4,4% dan 4,5% ke level terendah dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan juga terlihat di Taiwan. Indeks saham acuan Taiwan sempat turun hingga 1,1% sebelum berakhir relatif stagnan. Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) melemah 1,6%, menjadi penurunan harian terdalam sejak pertengahan September, menjelang rilis kinerja keuangan pekan ini. Padahal, laba kuartalan TSMC diperkirakan mencapai rekor. Namun, ekspektasi kinerja positif tersebut belum cukup meredam tekanan jual di sektor teknologi. Investor kini semakin mencermati besarnya pendanaan yang dihimpun perusahaan teknologi untuk membiayai pengembangan dan produksi cip AI kelas atas.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Gelombang Utang AI Kamis (8/10), Yield Obligasi Kembali Naik Kekhawatiran meningkat karena kebutuhan investasi yang besar berhadapan dengan biaya energi tinggi, potensi pengetatan kebijakan moneter lanjutan, serta kenaikan utang pemerintah yang mendorong biaya pinjaman. Tekanan terhadap saham Korea Selatan juga diperkuat oleh arus keluar dana asing. Pada September lalu, investor asing melepas saham Korea Selatan senilai US$ 17 miliar, menjadi penyumbang terbesar arus keluar dana dari pasar saham Asia di luar China. Kepala Riset Asia ANZ Khoon Goh menilai, Kospi telah mencatat arus keluar dana asing selama lima bulan berturut-turut. Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap valuasi saham yang sudah tinggi serta keberlanjutan siklus pertumbuhan industri semikonduktor.
IHSG tertekan, investor asing masih jualan
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG) sempat merosot hingga 2% pada perdagangan Senin dan menyentuh level terendah sejak Juli 2026. Pelemahan ini terjadi setelah IHSG mencatat kenaikan hampir 1% pada pekan sebelumnya berkat aksi beli saham-saham yang harganya sudah terkoreksi. Namun, sentimen negatif terkait transparansi dan daya tarik investasi di pasar domestik masih membayangi pergerakan indeks. Direktur Riset ACCM Glenn Yin mengatakan, investor asing masih melepas saham Indonesia meskipun IHSG menguat pada pekan lalu. “Investor asing menjual saham sekitar Rp 2,45 triliun pada pekan lalu, meskipun indeks menguat,” kata Glenn.
Baca Juga: Bursa Asia Tertekan, Lonjakan Utang Perusahaan AI Bebani Pasar Obligasi Global Menurut dia, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan mahalnya harga minyak membuat pasar saham Indonesia rentan terhadap tekanan. Kondisi tersebut dapat menghambat arus masuk modal asing, menekan rupiah, sekaligus membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter. Dengan demikian, kenaikan IHSG pada pekan sebelumnya belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya kepercayaan investor. Tekanan dari pasar global dan berlanjutnya aksi jual asing masih menjadi tantangan bagi pasar saham domestik. Won Korea Selatan menguat ke level tertinggi dua tahun Berbeda dengan pasar sahamnya, mata uang Korea Selatan justru menguat di tengah pelemahan dolar AS secara luas. Won diperdagangkan pada 1.332,16 per dolar AS, level terkuat sejak Oktober 2024. Sepanjang tahun ini, won telah menguat hampir 8% terhadap dolar AS dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan. Strategis valuta asing OCBC Christopher Wong menilai, penguatan won terutama didorong oleh arus transaksi, termasuk penjualan dolar AS oleh eksportir Korea Selatan. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang dan harga minyak yang lebih rendah turut mendukung pergerakan mata uang tersebut.
Baca Juga: Bursa Asia Menguat Selasa (6/10) Ikuti Wall Street, Yield US Treasury Masih Tinggi Wong melihat peluang penguatan won masih terbuka apabila pasangan dolar AS terhadap won menembus secara meyakinkan zona 1.320–1.330. Namun, ia mengingatkan bahwa won tetap rentan berbalik melemah jika sentimen risiko global memburuk. Sementara itu, rupee India menguat sekitar 1% setelah bank sentral India mengalihkan pembelian dolar AS oleh perusahaan minyak dari pasar spot dan mengambil langkah untuk membatasi permintaan dolar AS berjangka oleh korporasi. Secara keseluruhan, indeks mata uang negara berkembang yang dihitung MSCI naik 0,3% ke level tertinggi sejak pertengahan September. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pelemahan pasar saham Asia tidak serta-merta diikuti pelemahan seluruh mata uang di kawasan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News