KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia mengawali sesi perdagangan pertama tahun 2026 dengan kinerja melemah pada Jumat (2/1/2026). Tekanan datang dari saham-saham tambang dan emas berkapitalisasi besar, seiring anjloknya saham Northern Star Resources setelah perusahaan memangkas proyeksi produksi tahunannya. Melansir
Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,1% ke level 8.703,4 hingga pukul 23.46 GMT. Meski demikian, indeks tersebut menutup tahun 2025 dengan kenaikan hampir 7%, mencatatkan kenaikan tahunan selama tiga tahun berturut-turut.
Baca Juga: Dolar AS Lesu di Awal 2026 Usai Catat Penurunan Terdalam dalam Delapan Tahun Northern Star Resources menjadi pemberat terbesar indeks setelah sahamnya merosot 8,2%. Penurunan ini menjadi kejatuhan harian terdalam sejak 22 Oktober, menyusul keputusan perusahaan tambang emas tersebut menurunkan target produksi emas tahunan. Sektor pertambangan secara umum terkoreksi 0,3%, meski saham BHP naik tipis 0,1% dan Rio Tinto menguat 0,6%. Harga bijih besi melemah pada sesi perdagangan terakhir 2025 akibat melambatnya permintaan baja. Namun secara tahunan, harga komoditas tersebut masih mencatat kenaikan, didorong oleh kuatnya permintaan dari China sebagai konsumen terbesar dunia. Saham-saham berbasis emas juga tertekan dengan penurunan 1,9% pada Jumat, dan berada di jalur mencatat kinerja mingguan terburuk sejak pekan yang berakhir 21 November.
Baca Juga: Logam Mulia Mengawali Tahun Baru Menguat Usai Catat Rekor Sepanjang 2025 Sektor teknologi turut melemah 1%, mengikuti tekanan pada saham-saham teknologi Wall Street, setelah indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi ditutup melemah pada perdagangan Rabu lalu. Saham perusahaan perangkat lunak akuntansi Xero turun 1,3%. Sementara itu, saham WiseTech Global dan operator pusat data NEXTDC masing-masing melemah 0,4% dan 0,5%. Di sisi lain, Nickel Industries menjadi saham dengan kinerja terbaik di indeks acuan setelah melonjak 7,8%. Lonjakan ini merupakan kenaikan intraday terbesar dalam hampir tiga bulan terakhir. Saham Nickel Industries menguat tajam setelah perusahaan mengumumkan bahwa pemasok paduan khusus asal Korea Selatan, Sphere Corp akan mengakuisisi 10% saham pada proyek Excelsior Nickel Cobalt HPAL di Indonesia. Kesepakatan tersebut menilai proyek tersebut sebesar US$2,4 miliar.
Baca Juga: Sphere, Pemasok SpaceX, Beli 10% Proyek Nikel Indonesia Milik Nickel Industries Sementara itu, pasar saham Selandia Baru tutup karena hari libur nasional. Indeks S&P/NZX 50 mencatat kenaikan 3,3% sepanjang 2025, menorehkan penguatan tahunan untuk tiga tahun berturut-turut.