KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Rabu (8/72026), dengan indeks acuan mencatat potensi penurunan harian terbesar dalam hampir lima pekan. Pelemahan dipicu aksi jual pada saham-saham pertambangan dan perbankan, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sementara itu, pasar saham Selandia Baru juga bergerak melemah menjelang pengumuman keputusan suku bunga oleh Bank Sentral Selandia Baru (Reserve Bank of New Zealand / RBNZ).
Baca Juga: Dolar AS Sentuh Level Tertinggi Sepekan Rabu (8/7), Setelah AS Kembali Serang Iran Melansir
Reuters hingga pukul 00.06 GMT, indeks S&P/ASX 200 turun 1% ke level 8.720,50. Jika tren ini berlanjut hingga penutupan, kinerja tersebut akan menjadi yang terburuk dalam hampir lima pekan. Sehari sebelumnya, indeks ini ditutup melemah 0,3%. Sentimen pasar tertekan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Eskalasi konflik tersebut mendorong kenaikan harga minyak sekaligus meningkatkan kehati-hatian investor. Di Sydney, sektor pertambangan turun 2,6% dan menyentuh level terendah dalam tiga bulan setelah harga bijih besi melemah pada perdagangan sebelumnya. Saham-saham emiten tambang berkapitalisasi besar ikut tertekan. Saham BHP, Rio Tinto, dan Fortescue masing-masing turun antara 0,5% hingga 2,9%.
Baca Juga: Jelang Inggris vs Norwegia, 5 Pemain Three Lions Terancam Sanksi Sementara itu, saham-saham perusahaan tambang emas merosot 3,5%, mencatat penurunan untuk hari ketiga berturut-turut seiring melemahnya harga emas dunia. Dari sektor keuangan, indeks saham perbankan turun 0,8% dan berpotensi mencatat pelemahan harian terbesar dalam sepekan. Saham empat bank terbesar Australia terkoreksi antara 0,4% hingga 1,5%. Di sisi lain, kenaikan harga minyak menopang sektor energi. Indeks sektor energi menguat 3,3% dan berpeluang mencatat kinerja harian terbaik dalam lebih dari tiga bulan. Saham produsen energi Woodside naik 3,6%, sedangkan Santos melonjak 5,2%. Sementara itu, saham perusahaan telekomunikasi terbesar Australia, Telstra, sempat anjlok hingga 3,8%, menjadi penurunan intraday terdalam dalam hampir dua tahun setelah gangguan jaringan berskala nasional mengganggu layanan perusahaan.
Baca Juga: 10 Negara Pernah Disanksi FIFA karena Intervensi Politik, Ada Indonesia dan Rusia Di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 turun 0,5% ke level 13.696,32 atau sekitar 136 poin di bawah rekor tertingginya. Pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga RBNZ yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu. Bank sentral tersebut diperkirakan berpotensi menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak pertengahan 2023. Penasihat investasi Hamilton Hindin Greene Jeremy Sullivan mengatakan, peluang kenaikan suku bunga memang terbuka, namun belum dapat dipastikan.
"Saya tidak akan menyebutnya sebagai sebuah kepastian," ujar Sullivan. Ia menambahkan, RBNZ juga harus mempertimbangkan perlambatan ekonomi, tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga, serta dampak lanjutan dari kebijakan moneter yang telah diterapkan sebelumnya.
Baca Juga: Swiss Lolos ke Perempat Final Piala Dunia usai Menang Adu Penalti atas Kolombia Menurut Sullivan, perhatian pelaku pasar kemungkinan lebih tertuju pada nada pernyataan RBNZ dan arah kebijakan suku bunga selanjutnya dibandingkan keputusan suku bunga itu sendiri.