Bursa Australia Anjlok Jumat (11/9), ASX 200 Menuju Pekan Terburuk 6 Bulan



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia kembali melemah pada perdagangan Jumat (11/9/2026), memperpanjang penurunan selama empat sesi berturut-turut.

Saham-saham tambang menjadi pemberat utama di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi dan potensi kenaikan suku bunga akibat lonjakan harga energi.

Melansir Reuters, indeks S&P/ASX 200 turun 1,1% menjadi 8.727 pada pukul 00.10 GMT. Pada perdagangan Kamis, indeks acuan tersebut telah ditutup melemah 1%, sekaligus mencatat penurunan harian terburuk sejak awal Juni.


Baca Juga: Yield Treasury AS Mendekati 5%, Saham Asia Berguguran

Secara mingguan, ASX 200 berada di jalur penurunan sekitar 3,2%, yang akan menjadi kinerja mingguan terburuk sejak awal Maret.

Tekanan terhadap pasar saham Australia meningkat setelah harga minyak mentah kembali bertahan di atas level US$ 100 per barel.

Konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global sekaligus meningkatkan risiko inflasi.

Kekhawatiran tersebut turut mendorong kenaikan biaya pinjaman pemerintah di berbagai negara ke level tertinggi dalam beberapa dekade.

Investor juga mulai memperkirakan bank sentral akan mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi.

Sejumlah pernyataan hawkish dari pejabat bank sentral Australia semakin memperkuat ekspektasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) dapat segera menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang persisten, terutama akibat kenaikan biaya bahan bakar.

Yield obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak menjadi 5,038%, level tertinggi sejak Mei 2011.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan Dekat Level Terendah Sepekan US$ 4.318 pada Jumat (11/9)

Saham tambang tertekan

Di bursa Sydney, indeks sektor pertambangan merosot 3,9% ke level terendah dalam satu bulan.

Saham BHP Group turun 4,4%, sedangkan Rio Tinto melemah 3,1%.

Penurunan saham tambang terjadi setelah harga tembaga mundur dari rekor tertinggi. Tekanan muncul setelah laporan Reuters menyebut Gedung Putih AS belum memutuskan kebijakan tarif terhadap tembaga olahan.

Pemerintah AS disebut masih mempertimbangkan kekhawatiran bahwa tarif tersebut dapat mendorong kenaikan harga tembaga dan meningkatkan biaya produksi manufaktur.

Sektor teknologi juga ikut tertekan, turun 1,7% ke level terendah sejak akhir Juli. Saham WiseTech Global turun 2,7%, sementara Xero melemah 1,2%.

Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$ 109, Pasar Global Kembali Dibayangi Inflasi

Namun, sektor energi menjadi pengecualian. Indeks sektor energi naik 0,6% dan berada di jalur mencatat kinerja mingguan terbaik sejak pertengahan Agustus.

Saham Woodside Energy dan Santos masing-masing menguat 1,1%.

Di Selandia Baru, indeks S&P/NZX 50 turun tipis 0,2% menjadi 13.687,80. Indeks tersebut berada di jalur penurunan 2,4% sepanjang pekan, yang juga menjadi kinerja mingguan terburuk sejak awal Maret.

Investor selanjutnya akan mencermati data pertumbuhan ekonomi kuartal III Selandia Baru yang dijadwalkan dirilis pekan depan.