KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia menguat untuk sesi kedua berturut-turut pada Rabu (11/3/2026), memulihkan sebagian kerugian setelah aksi jual yang dipicu konflik awal pekan ini. Penguatan dipimpin oleh sektor pertambangan di tengah perhatian investor pada kemungkinan kenaikan suku bunga pekan depan. Melansir
Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 ditutup naik 0,6% ke level 8.743,50 poin, setelah sehari sebelumnya menguat 1,1%.
Baca Juga: SpaceX Incar IPO di Nasdaq, Berpotensi Jadi Terbesar Sepanjang Sejarah Meski demikian, indeks tersebut masih turun sekitar 5% sepanjang bulan ini, terutama akibat dampak konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Jamie Hannah, Deputy Head of Investments and Capital Markets di VanEck Australia mengatakan, volatilitas pasar masih akan berlanjut dalam jangka pendek seiring konflik Timur Tengah yang telah memasuki pekan kedua. “Dalam jangka pendek kita kemungkinan masih akan melihat volatilitas. Namun, mungkin bijak bagi bank sentral untuk bertindak lebih cepat daripada menunggu terlalu lama,” ujarnya. Bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia (RBA), dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pekan depan untuk memutuskan apakah akan menaikkan atau mempertahankan suku bunga acuan di level 3,85%. Pasar swap kini memperkirakan peluang hampir 70% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, naik tajam dari di bawah 30% pada pekan lalu. Hal ini mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap dampak inflasi dari konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: JPMorgan Pangkas Nilai Pinjaman Private Credit, Khawatir Disrupsi AI Tekan Perusahaan Sejumlah ekonom dari bank besar seperti Westpac dan National Australia Bank (NAB) juga mulai memproyeksikan kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan depan, setelah pejabat senior bank sentral memperingatkan potensi tekanan inflasi. Sektor pertambangan menjadi penggerak utama pasar dengan kenaikan 2,2%. Saham Fortescue melonjak 3,7%, mencatat sesi terbaik dalam dua pekan. Sementara Rio Tinto dan BHP Group masing-masing naik 1,1% dan 1,4%.
Subindeks saham emas juga menguat 1,5% seiring kenaikan harga emas, sementara kekhawatiran inflasi mereda setelah harga minyak sempat terkoreksi.
Baca Juga: Chevron dan Shell Mendekati Kesepakatan Jumbo Produksi Minyak di Venezuela Di sektor lain, saham keuangan naik 0,9% dan saham energi bertambah 0,6%. Sebaliknya, sektor kesehatan dan teknologi lokal menjadi penekan pasar dengan penurunan masing-masing 1,4% dan 1,6%. Sementara itu di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 ditutup naik 1,5% ke level 13.293,13 poin, mencatat kinerja harian terbaik sejak 18 Februari.