Bursa Australia Ditutup Turun Rabu (12/8), Saham BHP dan CBA Jadi Beban



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia ditutup melemah pada perdagangan Rabu (12/8/2026), tertekan penurunan saham perusahaan tambang BHP dan bank terbesar Australia, Commonwealth Bank of Australia (CBA).

Melansir Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,5% menjadi 9.209,4. Posisi tersebut sekitar 90 poin di bawah rekor yang dicapai indeks pada Kamis pekan lalu.

Saham CBA turun 0,7% setelah bank tersebut melaporkan penurunan 15% dalam pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) menyusul perubahan pajak properti yang diberlakukan pada Mei.


Baca Juga: Saham Eropa Stabil, Harga Minyak Naik Jelang Rilis Data CPI AS

Penurunan tersebut memperkuat peringatan serupa dari pesaingnya, Westpac dan National Australia Bank (NAB).

"Persaingan dalam kredit perumahan dan bisnis masih menjadi hambatan, sementara komposisi simpanan terus bergeser ke produk dengan imbal hasil lebih tinggi dan spread deposito berjangka memburuk selama paruh tahun tersebut," tulis Jefferies dalam catatannya.

CBA juga mengatakan tingginya suku bunga dan inflasi masih menekan anggaran rumah tangga serta aktivitas ekonomi.

Penurunan saham CBA turut menekan indeks sektor keuangan yang melemah 0,6%. Tiga bank besar lainnya dalam kelompok Big Four juga turun antara 0,6% hingga 0,9%.

Saham BHP Ikut Tertekan

Sektor pertambangan turun 0,2%, dengan BHP menjadi salah satu pemberat utama setelah sahamnya merosot 0,8%.

Saham BHP sempat bergerak positif sepanjang sebagian besar perdagangan sebelum akhirnya jatuh dalam beberapa menit terakhir. Penurunan tersebut sekaligus mengakhiri reli selama lima sesi berturut-turut, ketika saham BHP telah menguat lebih dari 5%.

Baca Juga: Iran Segera Bergabung dengan Bank Pembangunan BRICS, Ini Tujuannya

Sementara itu, saham sektor properti dan kebutuhan pokok konsumen masing-masing turun hampir 1%.

Sebaliknya, saham Suncorp melonjak 3,3% setelah perusahaan asuransi tersebut melaporkan laba tunai setahun penuh yang melampaui ekspektasi pasar.

Investor Menanti Data Inflasi AS

Investor juga menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan keluar pada Rabu.

Data tersebut berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Analis pasar senior Vantage Markets Hebe Chen mengatakan, posisi ASX yang baru saja mencetak rekor serta valuasi yang sudah tinggi di sejumlah sektor membuat pasar rentan terhadap kejutan inflasi.

Baca Juga: Korea Selatan Umumkan Tujuh Proyek Teknologi Pendorong Ekonomi Masa Depan

"Jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, kekhawatiran kenaikan suku bunga dapat dengan cepat kembali dan mengubah keraguan hari ini menjadi penurunan valuasi yang lebih berkelanjutan, terutama pada sektor keuangan dan sektor lain yang sensitif terhadap suku bunga," kata Chen.

Di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 turun 0,9% menjadi 13.737,66, sekaligus menjadi level terendah sejak 3 Agustus.