Bursa Australia Menguat 0,5% Jumat (9/10), Saham Bank dan Emas Jadi Penopang



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia menguat pada perdagangan Jumat (9/10/2026), ditopang kenaikan saham perbankan dan emiten emas di tengah membaiknya selera risiko investor setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan akan menghentikan serangan terhadap Iran menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang.

Melansir Reuters, indeks S&P/ASX 200 naik 0,5% ke level 8.699,80 pada pukul 23.40 GMT, setelah terkoreksi 0,8% pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Sepanjang pekan ini, indeks acuan tersebut tercatat menguat 0,2%.

Baca Juga: Jelang Pre-Prde iPhone Duo, Waspadai Situs Palsu untuk Curi Data


Optimisme meredanya konflik di Timur Tengah meningkat setelah Trump mengatakan AS telah menggelar pembicaraan produktif dengan Iran. Perkembangan tersebut mendorong harapan investor terhadap penurunan ketegangan geopolitik.

Meski demikian, penguatan bursa Australia masih tertahan oleh kewaspadaan investor terhadap harga minyak yang tinggi dan imbal hasil obligasi pemerintah Australia.

Imbal hasil obligasi tersebut telah naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir di tengah aksi jual obligasi global.

Saham sektor keuangan menguat lebih dari 1% dan berpotensi mencatat kenaikan harian terbaik dalam tiga pekan.

Keempat bank terbesar Australia, yang dikenal sebagai Big Four, masing-masing mencatat kenaikan lebih dari 1%.

Secara mingguan, indeks sektor keuangan naik 0,5% dan berada di jalur untuk membukukan penguatan selama dua pekan berturut-turut.

Saham perusahaan pertambangan emas juga menguat 1% seiring kenaikan harga emas. Sementara itu, saham teknologi naik lebih dari 1% pada perdagangan Jumat, meski masih terkoreksi lebih dari 3% sepanjang pekan ini. Sektor teknologi berpotensi mencatat penurunan mingguan ketujuh dalam delapan pekan terakhir.

Dari sisi korporasi, operator pusat data Firmus yang didukung Nvidia menunda rencana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) senilai US$ 5 miliar. Perusahaan menyebut volatilitas dan kondisi pasar sebagai pertimbangan penundaan tersebut.

Baca Juga: Indonesia Masuk, Ini Daftar Negara dengan Pertumbuhan Ekonomi Tercepat di Asia

Jika terlaksana, IPO Firmus berpotensi menjadi pencatatan saham baru terbesar di Australia dalam hampir tiga dekade, setelah pencatatan saham perusahaan telekomunikasi Telstra senilai sekitar US$ 10 miliar pada 1997.

Di sisi lain, saham pertambangan menahan laju penguatan indeks acuan setelah sektor tersebut terkoreksi hampir 1%. Saham BHP Group turun 1%.

Sepanjang pekan ini, indeks sektor pertambangan telah melemah 1,7% dan berada di jalur untuk mencatat penurunan mingguan selama enam pekan berturut-turut.

Sementara itu, indeks acuan Selandia Baru, S&P/NZX 50, bergerak stabil di level 13.680,54.