Bursa Australia Terkoreksi Selasa (20/1), Ancaman Tarif Trump Tekan Sentimen Global



KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Selasa (20/1/2026), dengan saham sektor tambang dan keuangan memimpin penurunan.

Pelemahan ini terjadi seiring memburuknya sentimen risiko global setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa.

Melansir Reuters, Indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,5% ke level 8.832,9 pada pukul 00.07 GMT, setelah sehari sebelumnya ditutup melemah 0,3%.


Baca Juga: Dolar AS Sentuh Level Terendah Sepekan, Geopolitik Picu Kembali Aksi Sell America

Tekanan di pasar global meningkat setelah Trump menyatakan akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% terhadap delapan negara Eropa yang menentang rencana pengambilalihan Greenland oleh AS.

Sentimen pasar semakin tertekan karena bursa saham AS tutup akibat hari libur nasional.

Pada awal perdagangan Selasa, kontrak berjangka S&P 500 E-mini tercatat turun 1,01%, sementara indeks Nikkei Jepang melemah 0,5%.

Di dalam negeri, saham perbankan Australia yang memiliki bobot besar dalam indeks acuan turun 0,7%. Empat bank terbesar Australia atau “Big Four” masing-masing melemah antara 0,6% hingga 0,9%.

Sektor pertambangan menjadi penekan utama indeks dengan penurunan hampir 1%.

Baca Juga: Laut China Selatan: Filipina Temukan Harta Karun Gas Tersembunyi!

Harga bijih besi jatuh ke level terendah dalam dua pekan setelah data dari China sebagai konsumen terbesar menunjukkan pelemahan yang masih berlanjut di sektor properti.

Saham BHP Group turun 0,7% setelah perusahaan menyatakan menerima harga yang lebih rendah untuk sebagian penjualan bijih besi dalam negosiasi kontrak tahunan dengan China.

BHP juga memperkirakan biaya proyek potash Jansen di Kanada melonjak sekitar 20%, meski perusahaan mencatat produksi bijih besi semester pertama pada rekor tertinggi.

Saham Rio Tinto ikut melemah 0,7%, menjelang rilis laporan produksi kuartal IV yang dijadwalkan pada Rabu.

Selain menantikan laporan kinerja para perusahaan tambang utama, pelaku pasar juga mencermati data ketenagakerjaan Australia bulan Desember pekan ini untuk mengukur arah kebijakan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA).

Saham emas di subsektor pertambangan turun 0,3%, seiring harga emas dunia yang terkoreksi dari level tertinggi sepanjang masa.

Baca Juga: Dolar AS Terancam! BRICS Siapkan Skema Pembayaran Baru

Sektor properti tercatat melemah 0,9% dan berpotensi mencatat penurunan harian terdalam sejak awal bulan ini.

Di tengah sentimen negatif, saham teknologi justru naik 0,7%, sementara sektor kesehatan dan konsumsi non-primer masing-masing menguat 0,2% dan 0,4%.

Sementara itu, indeks acuan S&P/NZX 50 Selandia Baru turun 0,4% ke level 13.523,19, terendah dalam tiga pekan terakhir.

Selanjutnya: Ekspansi Agresif dan Aksi Borong Prajogo Pangestu Jadi Amunisi Saham BREN

Menarik Dibaca: Jadwal Daihatsu Indonesia Masters 2026, 10 Wakil Indonesia Berlaga Menuju 16 Besar