KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia merosot ke level terendah dalam satu bulan pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Pelemahan terutama dipicu oleh anjloknya saham pertambangan dan emas di tengah lonjakan harga minyak yang kembali memicu kekhawatiran inflasi. Melansir
Reuters, indeks S&P/ASX 200 turun 1,3% menjadi 8.952,30 pada pukul 00.39 GMT atau sekitar 07.39 WIB.
Baca Juga: Imbal Hasil US Treasury Naik ke Level Tertinggi Hampir Tiga Tahun Jika tren pelemahan berlanjut hingga penutupan, indeks acuan tersebut berpotensi mencatat sesi terburuk sejak awal Juli 2026. Pada perdagangan Selasa (1/9), S&P/ASX 200 ditutup melemah 0,1%. Kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan minyak menjadi perhatian utama pasar setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Eskalasi tersebut mendorong harga minyak naik dan kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi ini sekaligus memperkuat spekulasi bahwa Reserve Bank of Australia (RBA) dapat menaikkan suku bunga. Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 50% bagi RBA untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan ini. Investor juga menantikan data produk domestik bruto (PDB) Australia kuartal II yang dijadwalkan dirilis pada Rabu.
Baca Juga: Dolar AS Menguat Rabu (2/9), Harga Minyak Naik di Tengah Eskalasi Konflik AS-Iran Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga RBA menjelang pertemuan bank sentral. Dari sektor saham, indeks finansial turun 0,5%, sementara saham properti melemah 0,7%. Empat bank terbesar Australia juga berada di zona merah, dengan penurunan antara 0,3% hingga 0,9%. Sektor pertambangan menjadi salah satu pemberat utama indeks. Subindeks pertambangan merosot hingga 3,5% ke level terendah dalam hampir dua pekan. Saham BHP Group, Rio Tinto dan Fortescue masing-masing turun antara 2% hingga 3,4%. Saham perusahaan emas juga mengalami tekanan. Subindeks saham emas anjlok hampir 5% dan menyentuh level terendah dalam sekitar dua pekan, seiring harga emas yang bergerak terbatas sehingga menekan prospek sektor tersebut. Saham Northern Star Resources merosot 5,2%, sedangkan Evolution Mining turun 5%. Berbeda dengan sektor lainnya, saham energi justru menguat hingga 1,8% dan berpeluang mencatat kinerja terbaik dalam sepekan. Kenaikan tersebut ditopang harga minyak mentah yang lebih tinggi. Saham Santos naik hingga 2,1%, sementara Woodside Energy menguat hingga 2,9%.
Baca Juga: Harga Emas Turun ke Level Terendah 2 Pekan pada Rabu (2/9), Ini Pemicunya Bursa Selandia Baru Ikut Melemah Tekanan juga terjadi di bursa saham Selandia Baru. Indeks acuan S&P/NZX 50 turun 0,6% menjadi 13.705,63. Investor di Selandia Baru bersiap menanti keputusan suku bunga bank sentral yang dijadwalkan pada Rabu pukul 02.00 GMT atau sekitar 09.00 WIB. Pasar saat ini memperkirakan bank sentral Selandia Baru akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 2,75%.