KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026), tertekan penurunan saham sektor teknologi dan konsumer
discretionary. Sentimen pasar juga memburuk setelah konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas sehingga meningkatkan kekhawatiran inflasi. Melansir
Reuters, Indeks S&P/ASX 200 turun 0,4% menjadi 9.040,30 pada pukul 00.55 GMT. Pada perdagangan Senin (31/8), indeks acuan tersebut telah melemah 0,2%.
Baca Juga: Harga Emas Stabil, Investor Tunggu Data Tenaga Kerja AS dan Pantau Konflik AS-Iran Harga minyak naik setelah Iran melancarkan serangan terhadap dua pangkalan militer AS di Yordania sebagai respons atas serangan AS terhadap Pulau Larak di Iran. Kondisi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Kenaikan harga minyak menopang saham sektor energi. Subindeks energi naik hingga 1,4% dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan harian terbaik dalam sepekan. Saham Santos dan Woodside Energy masing-masing menguat 1%. Di sisi lain, data domestik menunjukkan harga rumah Australia turun untuk bulan kelima berturut-turut pada Agustus. Pelemahan pasar properti kini meluas ke lebih banyak kota dan wilayah regional. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa pengetatan kebijakan lebih lanjut dapat membuat pasar properti menghadapi tekanan yang lebih berat.
Baca Juga: Yen Nyaris Tembus 160, Harapan BOJ Naikkan Bunga Kembali Menguat Pasar swap kini memperkirakan peluang lebih dari 50% bagi Reserve Bank of Australia (RBA) untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Investor selanjutnya akan mencermati data produk domestik bruto (PDB) Australia kuartal II yang akan dirilis pada Rabu (2/9). Sektor keuangan dan properti yang sensitif terhadap suku bunga masing-masing turun 0,4% dan 0,6%. Pergerakan saham empat bank terbesar Australia bervariasi. Sementara itu, saham sektor konsumer discretionary anjlok hingga 2,8% dan menyentuh level terendah dalam hampir tiga bulan. Saham teknologi juga turun hingga 2% ke level terendah hampir satu bulan, mengikuti pelemahan saham teknologi di Amerika Serikat. Berbeda dengan sektor tersebut, indeks saham pertambangan naik 0,1%. Saham BHP Group dan Rio Tinto masing-masing menguat 0,8% dan 0,7%.
Baca Juga: Indeks KOSPI Reli Ditopang Ekspor Chip Korea Selatan yang Didorong AI Terus Tumbuh Saham perusahaan tambang emas juga naik 0,4%, dengan Northern Star Resources menguat 0,8%. Di Selandia Baru, indeks acuan S&P/NZX 50 turun 0,9% menjadi 13.789,38. Berdasarkan jajak pendapat Reuters, mayoritas ekonom memperkirakan Reserve Bank of New Zealand akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,75% dalam pertemuan kebijakan pada Rabu (2/9).