KONTAN.CO.ID - Bursa saham Australia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026), dipimpin penurunan saham sektor pertambangan dan perbankan. Investor juga memilih berhati-hati menjelang rilis data inflasi kuartal II yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral Australia.
Baca Juga: Johnson & Johnson Sepakat Bayar US$ 5,5 Miliar untuk Akhiri Gugatan Bedak Talek Mengutip
Reuters, indeks acuan S&P/ASX 200 turun 0,3% menjadi 8.865,1 pada perdagangan pagi, setelah sehari sebelumnya menguat 1,4%. Sentimen pasar global sebenarnya masih didukung oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah setelah penghentian sementara aksi militer pada akhir pekan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan negaranya tengah melakukan "pembicaraan yang baik" dengan Iran dan peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dunia sehingga mendorong harga minyak turun. Namun, Trump juga memperingatkan bahwa serangan militer AS dapat kembali dilakukan apabila perundingan tidak menghasilkan kesepakatan. Konflik di Timur Tengah kembali menyoroti tingginya ketergantungan Australia terhadap impor bahan bakar yang memenuhi hampir 80% kebutuhan domestik.
Baca Juga: Apa Itu Hegemoni AI? China Tuduh AS Batasi Kemajuan Teknologi Pemerintah Australia bahkan tengah mempertimbangkan pembangunan kilang minyak baru pertama dalam lebih dari 60 tahun untuk memperkuat ketahanan energi. Di pasar saham Sydney, sektor pertambangan menjadi penekan utama setelah harga bijih besi melemah akibat permintaan musiman dari China yang melambat. Saham Rio Tinto turun 1,9%, sedangkan BHP melemah 0,9%. Saham-saham emiten emas juga turun 1,3% seiring melemahnya harga emas dunia. Evolution Mining terkoreksi 1,2%, sementara Northern Star Resources turun 0,7%. Sektor keuangan mencatat kinerja terburuk dalam sepekan dengan penurunan hingga 0,7%. Seluruh empat bank terbesar Australia melemah antara 0,5% hingga 0,9%. Pelaku pasar kini menantikan laporan inflasi kuartal II yang akan dirilis pada Rabu (29/7). Data tersebut diperkirakan menjadi acuan penting bagi langkah kebijakan berikutnya dari Reserve Bank of Australia (RBA). Berdasarkan ekspektasi pasar, peluang RBA menaikkan suku bunga pada pertemuan Agustus diperkirakan sekitar 30%. Sementara itu, sektor energi turun hingga 1,2%, menjadi level terendah dalam lebih dari sepekan, sejalan dengan penurunan harga minyak mentah. Saham Santos melemah 1,6%, sedangkan Woodside Energy turun 0,7%.
Baca Juga: Emas Spot Turun 0,5% Selasa (28/7), Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Meningkat Produsen batu bara Whitehaven Coal melaporkan kenaikan produksi pada kuartal IV. Namun, realisasi tersebut hanya sesuai dengan konsensus analis Visible Alpha sehingga belum mampu mengangkat sentimen pasar. Saham perusahaan turun hingga 1,2%. Di tengah pelemahan pasar, sektor barang konsumsi non-primer (discretionary) dan layanan kesehatan menjadi penopang dengan kenaikan masing-masing lebih dari 0,8%. Sementara itu, indeks acuan S&P/NZX 50 di Selandia Baru juga turun 0,2% menjadi 13.823,15 poin.