Bursa China Jatuh 1,7% Kamis (24/9), Investor Waspadai Hasil Pertemuan Trump-Xi



KONTAN.CO.ID - Bursa saham China mencatat penurunan harian terbesar dalam sebulan pada perdagangan Kamis (24/9/2026).

Investor masih berhati-hati terhadap hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington.

Melansir Reuters, Indeks blue-chip CSI300 turun 1,7% pada penutupan perdagangan, sementara Shanghai Composite melemah 1,2%. Keduanya mencatat penurunan harian terbesar dalam satu bulan terakhir.


Baca Juga: Volkswagen Gandeng Xpeng, Luncurkan Mobil Listrik Baru di China

Tekanan juga terjadi di pasar Hong Kong. Indeks Hang Seng turun 0,3%.

Trump menyambut kedatangan Xi di Washington pada Rabu untuk kunjungan selama tiga hari.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam hubungan ekonomi kedua negara, terutama di tengah ketegangan perdagangan dan teknologi yang masih berlangsung.

Investor sebelumnya tidak terlalu mengharapkan terobosan besar dari pertemuan tersebut.

Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington dan Beijing sepakat memperpanjang gencatan perdagangan selama dua bulan.

Analis UBS menilai, perpanjangan tersebut tetap membantu menjaga stabilitas hubungan bilateral, meski durasinya lebih pendek dibandingkan ekspektasi pasar yang menginginkan perpanjangan selama satu tahun.

Baca Juga: AS Masih Bergantung pada China untuk Rare Earth hingga 2030-an

“Perpanjangan tersebut lebih pendek dari ekspektasi pasar untuk rollover selama satu tahun, tetapi tetap membantu menjaga stabilitas hubungan bilateral,” tulis analis UBS dalam catatan penjualan yang dikutip Reuters.

Sentimen pasar juga terbebani oleh tidak hadirnya delegasi pengusaha China dalam kunjungan Xi. Reuters sebelumnya melaporkan bahwa Beijing sempat berupaya membawa sejumlah pemimpin bisnis China untuk bertemu dengan Trump.

Dari sisi sektoral, sebagian besar saham bergerak turun. Saham perusahaan tambang emas, logam nonferrous, serta produsen perangkat keras kecerdasan buatan (AI) menjadi kelompok yang paling tertekan.

Pelemahan bursa China juga sejalan dengan kondisi Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Saham AS tertekan oleh kenaikan harga minyak dan imbal hasil US Treasury yang meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan arah kebijakan suku bunga.

Baca Juga: MU Melepas Sebagian Besar Aset Old Trafford untuk Dijual

Meski demikian, sejumlah saham energi, perbankan, dan perusahaan pelayaran di Hong Kong bergerak lebih baik sehingga menahan penurunan lebih dalam di pasar tersebut.

Di sektor teknologi, investor juga masih mencermati potensi kerja sama AS dan China dalam pengembangan AI.

Sanjeev Rana, Head of North Asia Semiconductors Research CLSA mengatakan, terdapat ekspektasi bahwa Beijing dan Washington dapat bekerja sama dalam pengembangan dan keamanan AI.

Namun, dia belum melihat indikasi bahwa AS akan melonggarkan pembatasan ekspor chip ke China.

Di tengah kehati-hatian tersebut, sebagian investor masih melihat peluang perbaikan hubungan kedua negara.

Charles Wang, Chairman Shenzhen Dragon Pacific Capital Management, menilai Trump merupakan presiden yang pragmatis dan memahami posisi relatif kekuatan ekonomi global.

“Menurut saya, hubungan AS-China berkembang dari konfrontasi terbuka menuju saling memahami, kompromi, dan kerangka hidup berdampingan,” kata Wang.

Baca Juga: Dolar AS Bertahan di Level Tertinggi 2 Bulan Kamis (24/9), Tunggu Sinyal The Fed