Bursa China Melemah, Tertekan Kenaikan Imbal Hasil Global dan Gejolak Geopolitik



KONTAN.CO.ID - SHANGHAI. Bursa saham China melemah pada perdagangan Senin (12/10/2026), meski pemerintah meningkatkan upaya untuk menopang pasar modal.

Kenaikan imbal hasil obligasi global, ketegangan geopolitik, serta penyelidikan Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan teknologi China menekan sentimen investor.

Mengutip Reuters, indeks CSI300 yang mencerminkan saham-saham unggulan China turun 0,2% pada sesi perdagangan pagi dan masih bergerak di dekat level terendah dalam setahun.


Baca Juga: Pasar Asia Tertekan Jumat (21/8), Imbal Hasil Obligasi dan Harga Minyak Tetap Tinggi

Indeks Shanghai Composite juga terkoreksi 0,1%. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,2%.

Kenaikan imbal hasil obligasi global menjadi salah satu sumber kekhawatiran utama investor. Caitong Securities menilai, tekanan tersebut diperburuk oleh risiko krisis utang di negara-negara dengan kondisi fiskal terlemah di zona euro.

“Kekhawatiran utama berasal dari kenaikan imbal hasil global,” tulis Caitong Securities dalam proyeksi pasarnya.

Tekanan pasar juga meningkat seiring meluasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan berpotensi membuat suku bunga global bertahan tinggi lebih lama.

Di sisi lain, investor mencermati risiko meningkatnya ketegangan perdagangan China dengan mitra dagangnya. Kondisi tersebut dikhawatirkan menghambat ekspor China, salah satu sektor yang masih menjadi penopang perekonomian di tengah ketidakseimbangan pertumbuhan domestik.

Pada Jumat (9/10/2026), Komisaris Perdagangan Uni Eropa Maros Sefcovic mengatakan China dan Uni Eropa telah mencapai kesepakatan yang berpotensi memangkas ekspor mobil hibrida China ke kawasan tersebut lebih dari separuh.

Tekanan tambahan datang dari Amerika Serikat yang meluncurkan penyelidikan dugaan pelanggaran paten terhadap perusahaan teknologi, termasuk Luxshare Precision Industry dan Foxconn Industrial Internet.

Baca Juga: Bursa China-Hong Kong Ditutup Menguat, Harapan Negosiasi AS-Iran Jadi Pendorong

Saham Foxconn merosot hingga 7% ke level terendah dalam enam bulan, sedangkan saham Luxshare turun 2% dan mendekati level terendah sejak Maret.

Di tengah tekanan tersebut, saham sektor elektronik konsumen, telekomunikasi, dan properti menjadi beberapa kelompok saham dengan penurunan terbesar di China. Sebaliknya, saham perbankan dan konsumen menguat.

Di Hong Kong, saham perbankan dan bioteknologi mencatat kenaikan, sedangkan saham produsen cip dan perusahaan kecerdasan buatan (AI) melemah.

Pemerintah China sebenarnya telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam tekanan pasar. Ketua Komisi Regulasi Sekuritas China Wu Qing menggelar seminar bersama pelaku pasar pada Sabtu (10/10/2026) untuk menyerap masukan mengenai perbaikan pasar modal.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Global Melonjak, Saham Tertekan Saat Harga Minyak Tembus US$91

Selain itu, regulator pada Jumat menerbitkan rancangan aturan yang akan menurunkan persyaratan untuk mendirikan reksa dana saham.

Namun, langkah-langkah tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat sentimen investor di tengah tekanan eksternal dan meningkatnya risiko geopolitik.