KONTAN.CO.ID - Pasar saham di kawasan emerging Asia mencatat reli terbesar dalam hampir dua dekade pada perdagangan Jumat (31/7/2026), didorong kebangkitan saham-saham semikonduktor di Korea Selatan dan Taiwan. Investor mulai optimistis aksi jual tajam terhadap saham teknologi dalam beberapa pekan terakhir telah mendekati akhir. Mengutip
Reuters, indeks MSCI Emerging Markets (EM) Asia melonjak sekitar 8%, menjadi kenaikan harian terbesar sejak Oktober 2008.
Baca Juga: Awas Krisis Ekonomi Di Asia!, Bursa Saham Di Korsel Sudah Rontok Rp 36.000 T Sebulan Sementara itu, indeks MSCI EM Asia Information Technology melesat lebih dari 15%, mencatat kenaikan harian terbesar sepanjang sejarahnya. Meski demikian, secara bulanan kedua indeks tersebut masih membukukan pelemahan. Hingga akhir Juli, MSCI EM Asia turun sekitar 4,5%, sedangkan indeks sektor teknologi anjlok sekitar 13%. Kospi Cetak Rekor Kenaikan Harian Reli dipimpin oleh bursa Korea Selatan. Indeks Kospi ditutup melonjak 18%, menjadi kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah perdagangan indeks tersebut.
Baca Juga: Laba IAG Turun 16% akibat Perang Iran, Target Kapasitas Penerbangan Dipangkas Saham SK Hynix melonjak 30%, sedangkan Samsung Electronics naik 27%. Kedua emiten itu menyumbang lebih dari separuh bobot indeks Kospi. Meski sempat mengalami koreksi tajam selama enam pekan terakhir yang memangkas lebih dari separuh kenaikan tahunannya, Kospi masih menguat sekitar 56,5% sepanjang 2026. Investment Director Asian Equities di Aberdeen Investments Kieron Poon menilai, koreksi yang terjadi sebelumnya lebih banyak dipicu oleh sentimen pasar dibandingkan memburuknya fundamental sektor teknologi. "Kami meyakini pelemahan pasar saham teknologi Asia belakangan ini lebih dipengaruhi sentimen dibandingkan penurunan fundamental. Koreksi ini justru membuka peluang investasi yang lebih luas di Korea Selatan maupun sektor teknologi Asia secara keseluruhan," ujarnya. Menurut Poon, volatilitas tinggi di Kospi juga dipengaruhi besarnya penggunaan produk leveraged exchange traded funds (ETF) yang berfokus pada saham individual. Otoritas Korea Selatan telah berjanji membatasi dampak produk tersebut melalui pembatasan investasi pada masing-masing ETF. Poon menilai proses pengurangan leverage kemungkinan akan berakhir setelah kepastian regulasi tercapai.
Baca Juga: Xi Jinping Instruksikan Bersih-Bersih Korupsi di Tubuh Militer China Taiwan Ikut Menguat Di Taiwan, indeks saham utama naik sekitar 8%, mencatat kenaikan harian terbesar sejak pertengahan April. Saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Company atau TSMC menguat hampir 10%, menjadi kenaikan harian terbesar sejak Oktober 2020. Di kawasan Asia Tenggara, indeks saham Thailand naik 1,9%, sedangkan indeks saham Indonesia menguat sekitar 0,6%. Won dan Yen Melemah Di pasar mata uang, won Korea Selatan sempat melemah hingga 1,2% ke level 1.440,58 per dolar AS, setelah sehari sebelumnya menguat ke posisi tertinggi sejak pertengahan Oktober 2025.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Lebih dari 1% karena Peningkatan Pasokan Meski Ada Perang AS-Iran Reuters sebelumnya melaporkan otoritas valuta asing Korea Selatan melakukan intervensi dengan menjual dolar AS pada Kamis (30/7) untuk menopang nilai tukar won di tengah tekanan arus keluar modal. Sementara itu, yen Jepang melemah ke 160,53 per dolar AS setelah Bank of Japan memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Pelemahan tersebut terjadi sehari setelah yen melonjak lebih dari 2% akibat intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.