Bursa Global Bersiap Catat Kenaikan Mingguan, Microsoft Pulihkan Optimisme Sektor AI



KONTAN.CO.ID - Bursa saham global berada di jalur mencatat kenaikan mingguan pada Jumat (31/7/2026), didorong oleh laporan keuangan dua raksasa teknologi Amerika Serikat (AS), Microsoft dan Amazon, yang meredakan kekhawatiran investor mengenai besarnya investasi di sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Mengutip Reuters, reli pada akhir pekan membuat sejumlah indeks saham utama kembali menguat setelah sempat tertekan akibat kekhawatiran terhadap prospek industri AI.

Baca Juga: Bursa Emerging Asia Melonjak Tertinggi Hampir Dua Dekade pada Jumat (31/7)


Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan melonjak 17,91%, mencatat pemulihan terbesar sepanjang sejarah setelah mengalami tekanan tajam pada awal pekan. Meski demikian, indeks tersebut masih berada sekitar 30% di bawah rekor tertingginya.

Sentimen positif dipicu oleh laporan keuangan Microsoft yang memproyeksikan arus kas tetap kuat hingga tahun fiskal 2027.

Optimisme semakin menguat setelah Amazon melaporkan pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud) tercepat dalam lebih dari empat tahun.

Hasil tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa belanja besar perusahaan teknologi untuk pengembangan AI mulai menghasilkan keuntungan.

Manajer Portofolio North Square Growth Opportunities ETF Saverio Papagno mengatakan, perhatian investor kini mulai bergeser dari besarnya belanja AI menuju efisiensi penggunaan modal dan prospek keuntungan jangka panjang.

Baca Juga: Awas Krisis Ekonomi Di Asia!, Bursa Saham Di Korsel Sudah Rontok Rp 36.000 T Sebulan

Menurutnya, meski kekhawatiran mengenai persaingan dari China dan tingginya utang perusahaan teknologi masih ada, koreksi harga saham justru dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang.

"Setelah ketidakpastian mereda, sektor teknologi berpotensi kembali menjadi pemimpin penguatan pasar," ujarnya.

Di pasar berjangka, kontrak Nasdaq 100 naik 0,83%, sementara futures S&P 500 dan Dow Jones masing-masing menguat 0,35% dan 0,46%.

Di Eropa, indeks STOXX 600 mencetak rekor tertinggi baru dan berada di jalur kenaikan bulanan untuk empat bulan berturut-turut.

Sementara itu, indeks MSCI All Country World naik 0,87%, berpeluang mengakhiri tren pelemahan selama dua pekan terakhir. Meski demikian, secara bulanan indeks tersebut masih diperkirakan turun sekitar 0,33%.

Baca Juga: Laba IAG Turun 16% akibat Perang Iran, Target Kapasitas Penerbangan Dipangkas

Yen Kembali Melemah

Di pasar valuta asing, yen Jepang kembali melemah terhadap dolar AS setelah sehari sebelumnya menguat tajam akibat intervensi pemerintah Jepang.

Dolar AS menguat 0,56% ke level 160,38 yen, setelah sebelumnya sempat anjlok 2,42%. Pelemahan yen terjadi setelah Bank of Japan memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.

Dalam konferensi pers, Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, menegaskan risiko inflasi masih cenderung meningkat.

Ia juga menyatakan BOJ siap mempercepat kenaikan suku bunga apabila kondisi moneter dinilai masih terlalu longgar.

Analis suku bunga di GMO Edward Acton menilai, intervensi valuta asing saja tidak cukup untuk membalikkan tren pelemahan yen.

Menurutnya, penguatan yen yang berkelanjutan membutuhkan kombinasi antara kenaikan suku bunga BOJ yang lebih cepat dan meningkatnya investasi pada aset domestik Jepang.

Baca Juga: Xi Jinping Instruksikan Bersih-Bersih Korupsi di Tubuh Militer China

Konflik Timur Tengah Masih Jadi Risiko

Di sisi lain, konflik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang membayangi pasar keuangan global.

Upaya diplomatik untuk mengakhiri perang berjalan lambat, sementara serangan baru di kawasan kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi.

Harga minyak Brent diperkirakan mencatat kenaikan bulanan pertama sejak Maret.

Kepala Lazard Geopolitical Advisory di Lazard Asset Management Teddy Bunzel mengatakan, kapasitas pasar minyak untuk meredam gangguan pasokan semakin terbatas.

Menurutnya, apabila ketegangan gagal diredakan, dampaknya terhadap pasar energi akan jauh lebih besar dibandingkan episode konflik sebelumnya.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Lebih dari 1% karena Peningkatan Pasokan Meski Ada Perang AS-Iran

Gangguan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berlanjut. Jalur alternatif melalui Selat Bab el-Mandeb juga menghadapi ancaman setelah kembali menjadi sasaran serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun turun tipis, tetapi masih berada di dekat level tertinggi dalam 19 tahun.

Pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve setelah bank sentral AS mempertahankan suku bunga namun memberikan sinyal yang dinilai kurang jelas mengenai langkah selanjutnya.