KONTAN.CO.ID - Bursa saham global menyentuh rekor tertinggi pada perdagangan Jumat (29/5/2026). Sementara harga minyak dunia bersiap mencatat penurunan mingguan terbesar dalam hampir dua bulan terakhir. Sentimen pasar didorong harapan tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga: Bursa Korea Selatan Melonjak 2% Jumat (29/5), Ditopang Reli Samsung Electronics Sumber
Reuters menyebut, AS dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus melonggarkan pembatasan pelayaran. Meski demikian, Presiden Donald Trump disebut masih belum memberikan persetujuan akhir, sementara media pemerintah Iran menyatakan kesepakatan itu belum sepenuhnya final. Pada perdagangan Asia pagi, pergerakan pasar relatif terbatas. Kontrak berjangka indeks S&P 500 bergerak stabil setelah indeks acuan Wall Street tersebut kembali mencetak rekor penutupan tertinggi pada perdagangan sebelumnya. Harga minyak Brent turun sekitar 50 sen menjadi US$ 93,17 per barel dan berada di jalur penurunan mingguan lebih dari 10%. Pelemahan harga minyak terjadi setelah pasar mulai memperhitungkan kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak global.
Baca Juga: Bursa Australia Menguat Jumat (29/5), Ditopang Saham Tambang dan Emas Senior Market Strategist BNZ Wellington Jason Wong mengatakan, pasar saat ini sudah mulai mengasumsikan kesepakatan akan tercapai dan jalur Selat Hormuz kembali dibuka. Menurutnya, kesepakatan tersebut setidaknya mengurangi risiko terburuk bagi pasar energi global. Namun ia menilai kondisi tersebut belum cukup menjadi alasan bagi harga minyak untuk turun terlalu dalam dalam waktu singkat. Indeks saham global MSCI tercatat naik ke rekor tertinggi baru, didorong euforia kecerdasan buatan (AI) yang mengangkat saham-saham produsen chip di berbagai negara. Bursa Tokyo dan Seoul masing-masing menguat sekitar 2% pada perdagangan Jumat pagi dan berada di jalur kenaikan mingguan.
Baca Juga: Inflasi Inti Tokyo Tetap di Bawah Target BOJ, Produksi Pabrik Jepang Bangkit Saham Dell Technologies juga melonjak 39% dalam perdagangan after-hours setelah perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan dan laba berkat kuatnya permintaan server berbasis AI untuk pusat data. Head of Multi-Asset Solutions Federated Hermes Damian McIntyre mengatakan, siklus investasi berbasis AI masih berada pada tahap awal hingga menengah. Ia bahkan menaikkan target indeks S&P 500 menjadi 8.000 tahun ini dan 9.000 tahun depan. Pada perdagangan Kamis, indeks S&P 500 ditutup di level rekor 7.563,63. Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di level 4,45% atau turun sekitar 14 basis poin sepanjang pekan ini.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Tipis Jumat (29/5): Brent ke US$ 93,36 & WTI ke US$ 88,27 Data ekonomi AS yang dirilis sebelumnya menunjukkan konsumsi pribadi, pendapatan masyarakat, penjualan rumah, dan pertumbuhan ekonomi berada di bawah ekspektasi pasar. Namun inflasi AS masih tergolong tinggi meski sedikit lebih rendah dari perkiraan analis. Di Jepang, inflasi inti Tokyo tercatat tetap berada di bawah target 2% Bank of Japan untuk bulan keempat berturut-turut pada Mei. Meski demikian, pemulihan aktivitas manufaktur nasional memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Jepang pada Juni mendatang.
Di pasar mata uang, yen Jepang masih berada di bawah tekanan dan diperdagangkan di kisaran 159,26 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang sebelumnya memicu intervensi otoritas Jepang.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan Jumat (29/5), Setelah Muncul Laporan Gencatan Senjata AS-Iran Kementerian Keuangan Jepang dijadwalkan mengumumkan jumlah intervensi valuta asing yang dilakukan, dengan estimasi mencapai sekitar 8,6 triliun yen atau sekitar US$ 54 miliar. Sementara itu, euro menguat ke level US$ 1,1655 dan dolar Selandia Baru menjadi salah satu mata uang dengan penguatan terbesar pekan ini setelah bank sentral negara tersebut mempertahankan suku bunga sambil memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish dari perkiraan pasar.