Bursa Global Kehilangan Arah, Pejabat The Fed Kembali Dorong Kenaikan Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - Pergerakan pasar keuangan global kehilangan momentum pada akhir perdagangan Jumat (31/7/2026) setelah sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) kembali menyuarakan perlunya kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi.

Pernyataan tersebut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan membuat penguatan bursa saham terkikis.

Baca Juga: Asing Net Sell Rp 250 Miliar di Akhir Pekan, Cek Saham yang Banyak Dijual


Tiga pejabat The Fed yang sebelumnya berbeda pendapat dalam rapat kebijakan pekan ini secara terbuka menyatakan bahwa suku bunga perlu dinaikkan lebih lanjut.

Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan mengatakan, tanpa langkah pengetatan dalam waktu dekat, inflasi akan sulit kembali ke target 2% mengingat pasar tenaga kerja masih kuat dan tekanan harga tetap tinggi.

Pernyataan Logan memperkuat pandangan serupa yang sebelumnya disampaikan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack dan Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari.

Merespons komentar tersebut, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 6,35 basis poin menjadi 4,727%, level tertinggi sejak Januari 2025.

Sementara itu, yield obligasi tenor 30 tahun naik 5,14 basis poin menjadi 5,2584%, tertinggi sejak pertengahan 2007.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mencapai 69%.

Baca Juga: Wall Street Dibuka Naik Jumat (31/7), Lonjakan Saham Amazon Redam Tekanan dari Apple

Di pasar saham, reli yang sempat didorong oleh laporan keuangan kuat perusahaan teknologi mulai memudar.

Sebelumnya, Microsoft memproyeksikan arus kas yang tetap kuat hingga tahun fiskal 2027, sementara Amazon membukukan pertumbuhan bisnis komputasi awan (cloud) tercepat dalam lebih dari empat tahun. Hasil tersebut sempat meredakan kekhawatiran investor mengenai besarnya belanja kecerdasan buatan (AI).

"Terjadi koreksi besar sepanjang bulan pada saham-saham bertema AI. Kini, laporan hyperscaler seperti Amazon yang menunjukkan kuatnya permintaan layanan cloud kembali membangkitkan minat investor terhadap tema AI," ujar Chief Market Strategist B Riley Wealth, Art Hogan, kepada Reuters.

Meski demikian, penguatan bursa akhirnya terbatas setelah pasar kembali fokus pada prospek suku bunga yang lebih tinggi.

Pada perdagangan terakhir, indeks Dow Jones turun 0,06% ke 52.179,23. Indeks S&P 500 melemah tipis 0,02% ke 7.435,72, sedangkan Nasdaq Composite masih menguat 0,19% ke 25.170,38.

Baca Juga: Laba Emiten Properti Aguan Melonjak Ratusan Persen, Simak Rekomendasi dan Prospeknya

Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 0,03%.

Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan melonjak 17,91%, bangkit tajam setelah mengalami tekanan besar pada awal pekan akibat aksi jual saham-saham terkait AI.

Di pasar valuta asing, yen Jepang menguat tipis 0,03% ke 159,49 per dolar AS setelah intervensi pemerintah Jepang sehari sebelumnya.

Bank of Japan (BOJ) juga mempertahankan suku bunga, namun membuka peluang percepatan kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi meningkat.

Analis Senior Portfolio Manager Allspring Global Investments Lauren van Biljon menilai, intervensi pemerintah tidak cukup untuk menopang yen dalam jangka panjang.

"Fundamental dan kondisi teknikal yen masih sangat lemah. Intervensi bukan solusi jangka panjang yang kredibel," ujarnya.

Di pasar komoditas, harga emas spot turun 1,52% menjadi US$ 4.040,70 per ons, sementara harga minyak tetap menguat karena gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz dan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News