KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan global kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Rabu (10/6/2026) setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran investor. Di saat yang sama, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Indeks saham utama di Eropa bergerak melemah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan "membayar harganya" karena dinilai terlalu lama melakukan negosiasi.
Indeks STOXX 600 yang mencakup saham-saham utama di kawasan Eropa sempat dibuka stabil sebelum akhirnya berbalik turun 0,6%. Pelemahan semakin dalam setelah Trump menyampaikan pernyataannya melalui media sosial bahwa Iran telah terlalu lama menunda kesepakatan sehingga kini "harus membayar konsekuensinya." Sentimen negatif juga menjalar ke Wall Street. Kontrak berjangka saham Amerika Serikat turun antara 1% hingga 1,2%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Eropa ikut meningkat setelah komentar tersebut.
Baca Juga: Trump: Iran Terlalu Lama Bernegosiasi, Kini Harus Menanggung Konsekuensinya Ketegangan meningkat setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah meluncurkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan AS terhadap sejumlah target Iran di sekitar Selat Hormuz. Konflik tersebut menjadi salah satu eskalasi terbesar sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada April lalu. Analis fundamental Kepler Unigestion di Swiss, Fleura Shiyanova, menilai risiko geopolitik akibat perang Iran masih tetap ada meski dampaknya mulai lebih dipahami pasar. "Risikonya masih terus berlangsung, meskipun dalam tingkat yang lebih rendah. Risiko tersebut kini jauh lebih dipahami dibandingkan pada awal konflik, namun pertanyaan besarnya sekarang adalah berapa lama situasi ini akan berlangsung," ujar Shiyanova. Di kawasan Asia, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang merosot 2,3%, sedangkan indeks KOSPI Korea Selatan yang didominasi saham teknologi turun tajam 4,5% akibat tekanan terhadap saham-saham kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Menurut Shiyanova, investor juga mulai melakukan penyesuaian portofolio menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat serta sejumlah agenda besar lainnya, termasuk penawaran saham perdana (IPO) SpaceX.
Harga minyak menguat
Harga minyak dunia sempat merespons secara terbatas terhadap perkembangan konflik tersebut, namun kemudian memperpanjang penguatannya setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam tujuh pekan. Minyak mentah Brent naik 1,7% menjadi US$ 92,88 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,5% menjadi US$ 89,56 per barel. Pada perdagangan sehari sebelumnya, saham-saham Amerika Serikat juga terkoreksi setelah reli sektor teknologi kehilangan momentum. Kekhawatiran terhadap valuasi tinggi saham AI, memanasnya konflik Timur Tengah, serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga turut mengurangi minat investor terhadap aset berisiko. Indeks volatilitas CBOE (VIX), yang sering disebut sebagai indikator ketakutan Wall Street, bahkan sempat menyentuh level intraday tertinggi sejak 7 April.
Investor menanti data inflasi AS
Pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada data inflasi Amerika Serikat untuk mengukur dampak konflik terhadap tekanan harga. Survei Reuters terhadap para ekonom memperkirakan inflasi tahunan AS pada Mei meningkat menjadi 4,2%, yang akan menjadi laju kenaikan tahunan terbesar sejak April 2023. Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan pada pekan lalu juga meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga tahun ini. Saat ini, pasar telah sepenuhnya memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, berbeda dengan ekspektasi sebelumnya yang memperkirakan dua kali penurunan suku bunga sebelum konflik pecah.
Baca Juga: Impor Energi Italia Diperkirakan Meningkat Menjadi Sekitar €60 Miliar pada 2026 Kepala Strategi Investasi Saxo di Singapura, Charu Chanana, mengatakan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan akan mempersulit The Fed untuk mempertahankan sikap dovish. "Jika data CPI hari ini menunjukkan inflasi yang tinggi, maka akan jauh lebih sulit bagi The Fed untuk bersikap tenang pada pertemuan pekan depan. The Fed mungkin tidak dapat menaikkan suku bunga secara agresif hanya karena guncangan pasokan, tetapi mereka juga tidak bisa mengabaikan ekspektasi inflasi apabila harga minyak terus meningkat," ujar Chanana. Di pasar valuta asing, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan mata uang Negeri Paman Sam terhadap sekeranjang mata uang utama, termasuk yen Jepang dan euro, turun tipis 0,1% ke level 99,92.
Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) juga memulai pertemuan kebijakan moneternya selama dua hari. ECB secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk meredam kenaikan biaya energi, meski perhatian investor lebih tertuju pada proyeksi kebijakan moneter ke depan. Nilai tukar euro berada di level US$ 1,155, sedangkan poundsterling relatif stabil di posisi US$ 1,338. Di Jepang, yen diperdagangkan di kisaran 160,36 per dolar AS, mendekati level 160 yang selama ini dipandang sebagai batas psikologis yang dapat memicu intervensi pemerintah. Data terbaru juga menunjukkan inflasi harga grosir Jepang meningkat pada Mei dengan laju tercepat dalam tiga tahun terakhir akibat meluasnya tekanan harga yang dipicu konflik geopolitik. Kondisi tersebut memperkuat spekulasi bahwa Bank of Japan masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga.