Bursa Global Melemah, Kenaikan Harga Apple Picu Kekhawatiran Inflasi Sektor Teknologi



KONTAN.CO.ID - Bursa saham global melemah pada perdagangan Jumat (26/6/2026), dipimpin oleh aksi jual saham-saham teknologi setelah Apple mengumumkan kenaikan harga produknya akibat lonjakan biaya chip memori dan penyimpanan.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran investor bahwa besarnya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) dapat memicu tekanan inflasi.

Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Atas US$ 4.000, Sikap Hawkish The Fed Masih Jadi Beban


Di saat yang sama, harga minyak dunia kembali merosot menuju level terendah dalam hampir empat bulan meski ketegangan di Selat Hormuz belum sepenuhnya mereda.

Saham Apple bergerak lebih stabil pada perdagangan prapasar Jumat setelah anjlok sekitar 6% sehari sebelumnya.

Sentimen pasar juga dibebani laporan bahwa OpenAI tengah mempertimbangkan menunda rencana penawaran umum perdana (IPO) hingga tahun depan.

Melansir Reuters di Eropa, indeks saham utama turun hampir 1%, dengan sektor teknologi merosot sekitar 2%. Kontrak berjangka Wall Street juga mengindikasikan pelemahan antara 0,5% hingga 1,1%.

Baca Juga: Harga Emas Menuju Pelemahan Mingguan Keempat, Pasar Menilai Kembali Prospek Fed Rate

Tekanan lebih besar terjadi di Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 3%, sementara indeks KOSPI Korea Selatan sempat anjlok hingga 9% sehingga memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker).

Chief Investment Officer Nutshell Asset Management Mark Ellis mengatakan, investor mulai mempertanyakan efektivitas belanja modal besar-besaran yang dilakukan perusahaan teknologi raksasa atau hyperscalers untuk membangun infrastruktur AI.

"Pasar mulai khawatir terhadap perusahaan-perusahaan yang menggelontorkan belanja besar. Pertanyaannya adalah bagaimana tingkat pengembalian investasi dari pengeluaran tersebut," ujarnya.

Menurut Ellis, dalam jangka pendek lonjakan belanja tersebut memang dapat meningkatkan tekanan inflasi.

Baca Juga: Iran Bersikeras Kuasai Selat Hormuz, Pasar Minyak Tetap Waspadai Risiko Baru

Namun dalam jangka panjang, efisiensi yang dihasilkan teknologi diperkirakan mampu menurunkan biaya.

Kenaikan harga produk Apple juga mengurangi optimisme investor terhadap laporan keuangan produsen chip Micron yang sebelumnya melampaui ekspektasi pasar.

Selain itu, analis menilai volatilitas saham teknologi turut dipengaruhi aksi penyeimbangan portofolio (rebalancing) menjelang akhir bulan dan akhir kuartal.

Di pasar energi, harga minyak mentah turun lebih dari 3% dan berada di jalur penurunan mingguan yang tajam.

Penurunan terjadi setelah semakin banyak kapal tanker berhasil keluar dari Selat Hormuz sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.

Baca Juga: Bantuan Internasional Mengalir ke Venezuela Usai Gempa Dahsyat Tewaskan 188 Orang

Saudi Aramco juga kembali melakukan pemuatan minyak mentah di Terminal Ras Tanura setelah aktivitas ekspor sempat terhenti hampir empat bulan akibat konflik di kawasan.

Sementara itu, yen Jepang masih berada di dekat level terlemah terhadap dolar AS dalam empat dekade, yakni sekitar 161,6 yen per dolar AS.

Pelemahan mata uang Jepang tetap terjadi meski data inflasi AS sesuai ekspektasi pasar dan pelaku pasar mulai mengurangi proyeksi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada September.

Indeks dolar AS turun sekitar 0,3% menjadi 101,2, namun masih berada tidak jauh dari level tertinggi sejak Mei 2025.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS melanjutkan penurunan. Yield obligasi tenor dua tahun turun menjadi sekitar 4,09%, sedangkan yield tenor 10 tahun turun menjadi 4,38%.

Baca Juga: Airbus dan Kawasaki Jajaki Pengembangan Drone Militer Versi Jepang

Sementara itu, harga emas kembali menguat sekitar 0,5% ke kisaran US$ 4.046 per ons troi, didukung penurunan imbal hasil obligasi AS dan sedikit melemahnya dolar sebagai aset safe haven.