KONTAN.CO.ID - Pasar saham global turun pada Senin (23/2) setelah kebijakan tarif baru Presiden Donald Trump memicu kembali ketidakpastian perdagangan global. Investor beralih ke aset
safe haven seperti emas, sementara imbal hasil obligasi AS melemah. Langkah ini menyusul putusan Supreme Court of the United States yang membatalkan tarif darurat Trump pada Jumat.
Presiden kemudian mengumumkan tarif baru 10% atas seluruh impor AS, sebelum menaikkannya menjadi 15% pada Sabtu, berdasarkan Section 122 Trade Act 1974.
Baca Juga: Raksasa Teknologi AS Diproyeksikan Investasi US$650 Miliar untuk AI pada 2026 Wall Street dan Eropa Tertekan Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,44%, S&P 500 melemah 1%, dan Nasdaq Composite merosot 1,2%. Di Eropa, indeks STOXX 600 pan-Eropa turun 0,2%. DAX Jerman kehilangan 0,75%, sementara FTSE 100 Inggris relatif datar. Indeks saham global MSCI melemah 0,63%. Investor juga menanti laporan keuangan Nvidia pekan ini, yang dinilai krusial karena bobot perusahaan chip tersebut mendekati 8% dari S&P 500.
Baca Juga: Bayer Gugat Johnson & Johnson atas Dugaan Iklan Menyesatkan Obat Kanker Prostat Emas Naik Tajam, Imbal Hasil Turun Harga emas melonjak 1,9% menjadi sekitar US$5.200 per ons troi, sementara perak naik 3% ke kisaran US$87,36 per ons troi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun di seluruh tenor. Yield obligasi 10-tahun turun 2,7 basis poin menjadi 4,056%, sedangkan yield 2-tahun turun 0,8 basis poin menjadi 3,472%. Dilema Tarif Belum jelas kapan tarif baru akan diterapkan, produk apa saja yang dikecualikan, dan apakah semua negara akan dikenai tarif 15%. Sebelumnya, beberapa negara seperti Inggris dan Australia dikenai tarif 10%, sementara sejumlah negara Asia menghadapi tarif lebih tinggi. Menurut analisis Yale Budget Lab, rata-rata tarif efektif AS diperkirakan berada di 13,7% setelah pengumuman terbaru turun dari 16% (tertinggi sejak 1936) sebelum putusan Mahkamah Agung. Jika tarif 15% tersebut berakhir setelah 150 hari sesuai ketentuan undang-undang, rata-rata tarif dapat turun menjadi 9,1%.
Baca Juga: Singapura Akan Tindak Warga yang Bertempur di Luar Negeri untuk Tujuan Asing Dolar Melemah, Minyak Naik Dolar AS melemah terhadap euro, yen Jepang, dan franc Swiss. Terhadap yen, dolar turun 0,41% ke 154,41, sementara terhadap franc Swiss melemah 0,27%. Euro menguat tipis 0,16% ke US$1,1799. Harga minyak mentah Brent naik 0,88% ke US$72,35 per barel, memperpanjang kenaikan pekan lalu setelah Trump menyatakan AS dapat mengambil tindakan terhadap Iran di tengah peningkatan kekuatan militer di kawasan tersebut.
Pembicaraan lanjutan AS-Iran dijadwalkan berlangsung pada Kamis. Dengan ketidakpastian kebijakan perdagangan yang kembali meningkat, volatilitas di pasar global diperkirakan masih akan berlanjut dalam waktu dekat.