KONTAN.CO.ID - Bursa saham global bergerak melemah pada perdagangan Jumat (19/6/2026) setelah perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran ditunda. Di saat yang sama, yen Jepang kembali tertekan mendekati level terlemahnya dalam hampir 40 tahun, memicu spekulasi mengenai kemungkinan intervensi pemerintah Jepang di pasar valuta asing.
Baca Juga: BBCA dan BBNI Teratas, Cermati Saham yang Banyak Diborong Asing Akhir Pekan Ini Melansir
Reuters, Indeks saham global MSCI All-World turun 0,15% setelah Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance membatalkan rencana perjalanannya ke Swiss untuk bertemu para negosiator Iran. Di Eropa, indeks saham turun sekitar 0,12%, memangkas penguatan yang sempat terjadi pada awal sesi. Sementara itu, kontrak berjangka (futures) indeks saham Amerika Serikat juga melemah antara 0,1% hingga 0,2%. Pasar saham AS sendiri tutup karena libur nasional Juneteenth. Sentimen pasar turut dipengaruhi perkembangan terbaru di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent bergerak turun ke bawah level US$ 80 per barel setelah Israel dan Hezbollah menyepakati gencatan senjata di Lebanon.
Baca Juga: Industri Aset Digital Bergeser, Investor Mulai Cari Utilitas dan Nilai Nyata Kesepakatan tersebut muncul setelah eskalasi konflik yang sempat mengancam implementasi perjanjian sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Selain itu, kapal-kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz setelah AS mencabut blokade terhadap Iran sehari sebelumnya. Kondisi ini membantu meredakan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi global. Meski demikian, analis RBC Capital Markets menilai keberlanjutan kesepakatan tersebut masih perlu diuji. "Kami memperkirakan banyak kapal akan segera keluar dari Teluk Persia dan harga minyak berpotensi kesulitan menguat di tengah sentimen pembukaan kembali jalur perdagangan. Namun, kami masih mempertanyakan daya tahan kesepakatan tersebut," tulis RBC dalam catatan risetnya. Menurut RBC, sekalipun kesepakatan damai bertahan, pemulihan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz kemungkinan tidak akan langsung kembali normal dan dapat menyerupai kondisi Laut Merah yang hingga kini masih mencatat volume pelayaran jauh di bawah level sebelum krisis.
Baca Juga: Menilik Ulang Nasib Pasar Modal Indonesia Pasca Rapor MSCI Dolar AS Menguat Di pasar valuta asing, indeks dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Penguatan dolar didorong oleh sikap hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang menegaskan komitmennya untuk menekan inflasi dan menjaga stabilitas harga. Pernyataan tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan setidaknya akan ada satu kali kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun. Perubahan ekspektasi tersebut tercermin pada pasar obligasi AS. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun naik hampir 10 basis poin dibandingkan pekan lalu, sementara yield obligasi tenor 10 tahun turun menjadi sekitar 4,45%. Investor kini menilai peluang kenaikan suku bunga jangka pendek meningkat, namun tetap optimistis bahwa tekanan inflasi dapat mereda seiring turunnya harga energi.
Baca Juga: IHSG Menguat 3,76% dalam Sepekan, Pasar Respon Positif Review MSCI Yen Mendekati Titik Intervensi Kuatnya dolar AS semakin menekan mata uang Jepang. Yen diperdagangkan di kisaran 161,3 per dolar AS, mendekati level terlemah sejak 1986. Posisi tersebut berada jauh di atas level psikologis 160 per dolar yang selama ini dianggap pasar sebagai batas yang dapat memicu intervensi pemerintah Jepang. Pelemahan yen telah berlangsung selama lima dari enam pekan terakhir, sehingga otoritas Jepang kembali mengeluarkan serangkaian peringatan kepada pelaku pasar mengenai kemungkinan langkah stabilisasi nilai tukar.
Sementara itu, poundsterling Inggris naik tipis 0,1% ke level US$ 1,321 setelah sebelumnya melemah 0,7% akibat keputusan Bank of England mempertahankan suku bunga acuannya.
Baca Juga: Alfamart (AMRT) Buka Jalan Ekspansi di Pasar Global, Begini Prospek Sahamnya Di Inggris, dinamika politik juga menjadi perhatian investor setelah Wali Kota Greater Manchester, Andy Burnham, memenangkan pemilihan parlemen yang dinilai mengurangi hambatan terhadap potensi tantangan kepemimpinan terhadap Perdana Menteri Keir Starmer. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News