KONTAN.CO.ID - Pasar saham global bergerak menguat pada Senin (17/8/2026), sementara dolar Amerika Serikat (AS) melemah mendekati level terendah dalam dua bulan. Pergerakan ini terjadi setelah serangkaian data ekonomi AS yang lebih lemah dari perkiraan mendorong investor mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Terkoreksi Senin (17/8), Saham Bank dan Ritel Anjlok Data penjualan ritel AS yang secara tak terduga turun pada Juli menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Berdasarkan CME Group FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan kini hanya sekitar 30%, turun tajam dari sekitar 50% sepekan sebelumnya. Melansir
Reuters, Indeks STOXX 600 yang mencerminkan kinerja saham-saham perusahaan besar Eropa naik 0,21%. Sebelumnya, indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang menguat 0,5%, sedangkan Nikkei Jepang naik 0,3%. Di China, indeks saham unggulan atau blue-chip naik 0,8%, sementara indeks Hang Seng Hong Kong menguat 1,6%. Investor mencermati rilis data aktivitas ekonomi China untuk Juli. Pasar memperkirakan pertumbuhan produksi industri China melambat menjadi 4,8% secara tahunan pada Juli dari 5,3% pada Juni. Namun, investor masih membuka peluang data yang lebih baik dari perkiraan karena ekspor China pada bulan sebelumnya mendapat dorongan dari kuatnya permintaan global terkait infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga: Ekonomi China Melambat, Output Industri dan Penjualan Ritel di Bawah Ekspektasi Risiko Kenaikan Suku Bunga Mereda Pergerakan positif pasar saham juga didorong oleh berkurangnya risiko kenaikan suku bunga AS. Penjualan ritel AS pada Juli mencatat penurunan pertama dalam sembilan bulan. Di saat yang sama, sentimen konsumen memburuk lebih besar dari perkiraan. Kondisi tersebut melengkapi sejumlah data inflasi yang sebelumnya juga menunjukkan tekanan harga mulai mereda. Kontrak berjangka Nasdaq naik 0,5%, sementara S&P 500 futures menguat 0,2%, mengindikasikan pasar saham AS berpotensi melanjutkan penguatan saat perdagangan dibuka. Investor kini akan mencermati sejumlah agenda ekonomi dan laporan keuangan perusahaan besar AS pekan ini. Rilis indeks Purchasing Managers' Index (PMI) S&P untuk Agustus menjadi salah satu data penting untuk mengukur keberlanjutan pemulihan aktivitas bisnis AS. Selain itu, laporan keuangan dari sejumlah perusahaan ritel besar seperti Home Depot, Target dan Walmart akan menjadi perhatian untuk melihat seberapa kuat daya beli konsumen AS.
Baca Juga: Investasi Sektor Properti China Makin Anjlok Dolar Melemah, Harga Minyak Masih Jadi Risiko Ekspektasi kenaikan suku bunga yang semakin mereda turut menekan dolar AS. Euro menguat hingga menyentuh level tertinggi dalam dua bulan di US$1,1588. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga mencapai level tertinggi dalam 10 pekan masing-masing di US$0,7105 dan US$0,5910. Sementara itu, imbal hasil US Treasury mengalami penurunan. Imbal hasil surat utang AS tenor dua tahun turun 2 basis poin menjadi 4,154%, sedangkan tenor 10 tahun turun 2 basis poin menjadi 4,680%. Di pasar komoditas, harga emas naik 0,5% menjadi US$4.397 per ons setelah menguat 0,8% pada pekan sebelumnya. Berbeda dengan saham dan dolar, pasar minyak masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak Brent sempat menguat sebelum berbalik turun 0,05%, setelah sebelumnya melonjak sekitar 6% sepanjang pekan lalu. Minyak mentah AS turun 0,7% menjadi US$81,91 per barel.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Thailand Kuartal II-2026 Lampaui Perkiraan, Target 2026 Dinaikkan Kebuntuan perundingan antara AS dan Iran serta terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz masih menjadi perhatian pasar. Shane Oliver, Chief Economist AMP mengatakan, harga minyak kemungkinan masih berada dalam kisaran US$70-US$100 per barel selama belum ada penyelesaian terkait Iran dan Selat Hormuz. "Risikonya tetap ada bahwa tidak akan tercapai kesepakatan damai yang berkelanjutan. Arus minyak dari Timur Tengah masih turun 10%-15% dari level normal dan kita harus menghadapi harga minyak yang lebih tinggi seiring cadangan yang terus berkurang," ujar Oliver.