KONTAN.CO.ID - Pasar saham global bergerak menguat tipis pada Senin (10/8/2026), sementara harga minyak relatif stabil di tengah ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz. Investor juga menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada Rabu (12/8) untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Baca Juga: Pentagon Tegaskan AS Tak Tinggalkan Asia, Minta Negara Mitra Perkuat Pertahanan Melansir
Reuters, Indeks Stoxx 600 Eropa naik 0,1%. Kontrak berjangka S&P 500 menguat 0,2%, sementara kontrak Nasdaq yang berbasis saham teknologi naik 0,4%. Di Asia, penguatan bursa mengikuti reli Wall Street pada Jumat (7/8), ketika indeks S&P 500 mencetak rekor setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Indeks Nikkei Jepang naik 2,1%, sedangkan saham Korea Selatan menguat 0,7%. Secara keseluruhan, indeks MSCI global naik 0,1% pada Senin. Ekonom senior Eropa Jefferies Mohit Kumar mengatakan pihaknya masih memperkirakan The Fed tidak menaikkan suku bunga sepanjang tahun ini. "Kunci utamanya adalah laporan inflasi pekan ini," ujar Kumar.
Baca Juga: Rupiah Lanjutkan Penguatan Senin (10/8), Saham Asia Menguat Ditopang Reli Saham AI Investor Menanti Inflasi AS Ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan indeks harga konsumen (CPI) AS pada Juli meningkat 3,4% secara tahunan, melambat dari kenaikan 3,5% pada Juni. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memperhitungkan harga pangan dan energi diperkirakan tumbuh 2,5% secara tahunan, dibandingkan 2,6% pada bulan sebelumnya. Data tersebut menjadi perhatian utama investor setelah laporan tenaga kerja AS pekan lalu menunjukkan ekonomi secara tak terduga kehilangan lapangan pekerjaan pada Juli. Kondisi tersebut membuat pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Di pasar futures The Fed, peluang kenaikan suku bunga pada September kini diperkirakan sekitar 45%, turun dari 67% sepekan sebelumnya. "Jika harga minyak tetap terkendali dan bergerak lebih rendah dari level saat ini, hal itu akan menghilangkan kebutuhan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga," kata Kumar.
Baca Juga: Bursa Korsel Naik 0,65% Senin (10/8), Saham Samsung dan SK Hynix Berbalik Melemah Harga Minyak Stabil di Tengah Ketidakpastian Hormuz Harga minyak bergerak relatif stabil setelah Iran menyatakan hampir mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz. Iran mengatakan kesepakatan tersebut berada pada tahap akhir. Namun, Teheran menegaskan Selat Hormuz baru akan dibuka kembali apabila Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan Iran. Harga minyak Brent turun tipis dan berada di sekitar US$83,50 per barel. Aktivitas pelayaran melalui selat strategis tersebut masih sangat terbatas. Meski demikian, harga Brent masih jauh di bawah level tertinggi pada akhir April yang sempat menembus US$126 per barel.
Baca Juga: Bursa Australia Tergelincir Senin (10/8), Saham Westpac Tertekan Jelang Keputusan RBA Kinerja Emiten Topang Bursa Selain ekspektasi suku bunga, pasar saham global juga mendapat dukungan dari kinerja keuangan perusahaan yang kuat. Analis Bank of America (BofA) mencatat hampir 90% perusahaan dalam indeks S&P 500 telah merilis laporan keuangan. Laba per saham (EPS) tercatat tumbuh sekitar 30% secara tahunan setelah mengecualikan keuntungan investasi Alphabet dan Amazon. Tingkat perusahaan yang mencatatkan laba di atas ekspektasi mencapai 76%, atau menyamai level tertinggi sejak 2021. JPMorgan bahkan menaikkan proyeksi EPS S&P 500 2026 menjadi US$365, yang mencerminkan pertumbuhan tahunan 35%.
Baca Juga: Nikkei Jepang Ditutup Naik 2% Senin (10/8), Saham AI dan Chip Jadi Penopang Utama Bank tersebut juga menaikkan target S&P 500 menjadi 8.000 dari sebelumnya 7.800. Saat ini, indeks berada di sekitar 7.758. Pekan ini, investor akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan besar, termasuk produsen semikonduktor Applied Materials, perusahaan peralatan jaringan Cisco, serta perusahaan teknologi cloud CoreWeave. Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun turun 1 basis poin menjadi 4,643%. Pasar bersiap menghadapi penerbitan surat utang baru senilai US$125 miliar pada pekan ini.
Sementara itu, pasar valuta asing bergerak relatif stabil. Euro berada di sekitar US$1,156, tidak jauh dari level tertinggi dalam tujuh pekan. Dollar AS menguat 0,4% terhadap yen menjadi 158,48 yen. Namun, investor tetap mewaspadai potensi intervensi pemerintah Jepang apabila pelemahan yen berlanjut. Risiko inflasi di Jepang juga menjadi perhatian. Ringkasan pandangan pejabat Bank of Japan (BOJ) dalam pertemuan Juli menunjukkan kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan inflasi. Kondisi tersebut memperkuat kemungkinan BOJ menaikkan suku bunga pada September.