Bursa Global Tertekan oleh Aksi Jual Saham Chip, Harga Minyak Terus Menguat



KONTAN.CO.ID - Bursa saham global kembali tertekan pada perdagangan Jumat (17/7/2026) setelah aksi jual besar-besaran terhadap saham-saham semikonduktor menyebar ke berbagai pasar.

Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan reli saham yang selama ini didorong oleh antusiasme terhadap kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Di saat yang sama, meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Konflik yang kembali memanas mendorong harga minyak tetap tinggi dan menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi serta perlambatan pertumbuhan ekonomi global.


Baca Juga: Iran Serang Wilayah Suriah Timur, Klaim Sasar Pusat Operasi Militer AS di Al-Tanf

Di Eropa, indeks STOXX 600 turun 0,7%, sementara bursa utama di Paris dan Frankfurt bergerak di zona merah. Indeks FTSE 100 Inggris relatif datar.

Tekanan jual jauh lebih besar terjadi di Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang anjlok 3%, sedangkan Nikkei 225 Jepang merosot 4% dan kini telah turun sekitar 12% dari puncak tertingginya baru-baru ini.

Pasar saham Taiwan menjadi yang paling terpukul dengan penurunan lebih dari 6%, menjadi koreksi harian terbesar sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tarif "Liberation Day". Sementara itu, indeks saham unggulan China turun 3,6%.

Di Hong Kong, Hang Seng Index melemah 1,8%, sedangkan Hang Seng Tech Index merosot 4,4%, menjadi penurunan harian terbesar sejak April 2025.

Strategis investasi Danske Bank, Lars Skovgaard, mengatakan bursa Eropa relatif lebih mampu bertahan karena memiliki eksposur yang lebih kecil terhadap sektor teknologi perangkat keras dibandingkan pasar Asia.

"Dari perspektif Eropa, eksposur terhadap sektor teknologi lebih kecil dan lebih banyak ke sektor defensif serta barang konsumsi pokok. Karena itu kinerjanya terlihat sedikit lebih baik," ujarnya.

Baca Juga: Laba Operasional Volvo Merosot Jadi 800 Juta Krona di Kuartal II-2026

Reli AI mulai dipertanyakan

Tekanan pada saham teknologi terjadi meskipun Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) melaporkan laba kuartal II yang melampaui ekspektasi pasar.

Selain itu, ASML, pemasok utama mesin pembuat chip berteknologi tinggi, juga telah menaikkan proyeksi penjualan untuk 2026 pada awal pekan ini.

Analis pasar IG, Fabien Yip menilai, aksi jual diperparah oleh investor ritel yang sebelumnya menggunakan dana pinjaman untuk membeli saham-saham AI.

"Likuidasi posisi dengan leverage kemungkinan akan memperbesar penurunan dan semakin menekan pasar," katanya.

Di Korea Selatan, pasar saham ditutup karena hari libur nasional.

Baca Juga: Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Timur Tengah, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas

Sehari sebelumnya, pemerintah mengumumkan penghentian sementara pencatatan exchange traded fund (ETF) baru yang terkait dengan sejumlah perusahaan teknologi besar serta menaikkan persyaratan dana minimum bagi investor ritel untuk meredam volatilitas.

Di Amerika Serikat, kontrak berjangka (futures) Nasdaq turun 2,2%, sementara futures S&P 500 melemah 1,1%.

Harga minyak menuju kenaikan mingguan terbesar sejak April

Di pasar komoditas, harga minyak kembali menguat. Minyak mentah Brent naik 0,6% menjadi US$ 84,75 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,1% menjadi US$ 79,80 per barel.

Iran pada Jumat menyatakan telah melancarkan serangan baru terhadap fasilitas milik Amerika Serikat di kawasan Teluk setelah AS melanjutkan serangan terhadap fasilitas militer Iran selama enam malam berturut-turut.

Sepanjang pekan ini, harga Brent maupun WTI diperkirakan naik lebih dari 11%, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak April.

Baca Juga: Lonjakan Kinerja Burberry Berlanjut, Pendapatan Naik Menjadi £455 juta

Menurut Skovgaard, sebagian pelaku pasar memilih menunggu hingga terdapat perkembangan yang lebih jelas terkait pergerakan harga minyak.

"Selama belum ada perkembangan yang positif pada harga minyak, investor tidak memiliki alasan kuat untuk kembali masuk ke pasar. Kondisi itu hanya menjadi sentimen negatif tambahan," ujarnya.

Dolar stabil, pasar kurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed

Di pasar valuta asing, dolar AS bergerak relatif stabil dan diperkirakan mengakhiri pekan tanpa banyak perubahan.

Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini diimbangi oleh meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven.

Pelaku pasar kini memperkirakan total kenaikan suku bunga The Fed hingga Desember sekitar 26 basis poin setelah data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) AS pekan ini menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan.

Baca Juga: AS Perketat Aturan Visa, China Ancam Ambil Langkah Balasan

Euro diperdagangkan stabil di level US$ 1,1438, sedangkan pound sterling berada di US$ 1,3451.

Sementara itu, yen Jepang bertahan di dekat level terlemahnya dalam 40 tahun di kisaran 162,39 per dolar AS, sehingga kembali mendorong Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyampaikan peringatan verbal untuk menopang mata uang negaranya.