KONTAN.CO.ID - Mayoritas bursa saham global ditutup melemah pada perdagangan Kamis (6/8/2026), seiring investor memilih bersikap hati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS). Di saat yang sama, harga minyak melonjak setelah muncul kekhawatiran baru terkait akses kapal AS dan Israel ke Selat Hormuz.
Baca Juga: Trump Kembali Batasi Kewarganegaraan Otomatis di AS, Ini Isi Aturan Barunya Mengutip
Reuters, sentimen pasar dipengaruhi laporan kantor berita semi-resmi Iran, Fars, yang menyebut sebuah komite parlemen Iran tengah mengkaji rancangan undang-undang (RUU) yang melarang kapal AS, Israel, dan negara lain yang dianggap bermusuhan melintasi Selat Hormuz. RUU tersebut juga mengusulkan denda hingga 20% dari nilai muatan kapal bagi pihak yang melanggar aturan tersebut. Merespons kabar tersebut, harga minyak Brent melonjak US$ 3,04 atau 3,83% dan ditutup di US$ 82,49 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 2,07 atau 2,75% menjadi US$ 77,29 per barel. Kenaikan harga minyak dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap konsumen dan perekonomian karena berpotensi mendorong inflasi. "Terlihat adanya keengganan investor terhadap aset berisiko. Kita melihat harga minyak dan suku bunga sama-sama naik," ujar Chief Executive Officer Longbow Asset Management, Jake Dollarhide.
Baca Juga: Dolar AS Menguat terhadap Yen Jelang Rilis Data Tenaga Kerja AS Wall Street Melemah Ketiga indeks utama Wall Street ditutup di zona merah. Dow Jones Industrial Average turun 464,02 poin atau 0,85% ke 53.885,10. S&P 500 melemah 13,59 poin atau 0,18% ke 7.709,96 dan Nasdaq Composite turun 15,09 poin atau 0,06% menjadi 26.348,35. Sementara itu, indeks saham global MSCI All Country World Index turun 0,33% menjadi 1.145,73. Berbeda dengan Wall Street, indeks STOXX 600 Eropa justru naik 0,16% dan mencetak rekor tertinggi baru, ditopang penguatan saham sektor media dan telekomunikasi.
Baca Juga: Minyak Brent Ditutup di Atas US$ 82, RUU Iran soal Selat Hormuz Jadi Sorotan Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS Pelaku pasar kini menantikan laporan ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) AS periode Juli yang akan dirilis pada Jumat (7/8). Sebelumnya, data ekonomi menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran di AS meningkat tipis pekan lalu, sementara jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) turun ke level terendah dalam dua tahun. Kondisi tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil. Meski demikian, banyak ekonom dan pelaku pasar masih memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan depan apabila inflasi belum menunjukkan perbaikan yang memadai.
Baca Juga: Harga Emas Pangkas Penguatan, Kenaikan Minyak akibat Iran Tekan Sentimen Pasar Imbal Hasil Obligasi dan Dolar AS Menguat Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,67 basis poin menjadi 4,674%. Sebelumnya pada awal pekan, imbal hasil sempat turun karena optimisme bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz akan membantu menjaga harga minyak tetap terkendali sehingga mengurangi risiko inflasi.
Baca Juga: ConocoPhillips Ganti CEO di Tengah Lonjakan Laba Terbesar Sejak 2022 Di pasar valuta asing, dolar AS juga menguat terhadap yen Jepang berkat meningkatnya permintaan aset safe haven. Dolar AS naik 0,44% ke level 158,45 yen, memperpanjang penguatan selama tiga hari berturut-turut setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak awal Mei. Pelemahan dolar pada awal pekan terjadi setelah pemerintah AS dan Jepang melakukan intervensi bersama untuk menopang nilai tukar yen.