Bursa Indonesia Masuk Watchlist S&P, Simak Proyeksi IHSG hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih akan tertekan pasca pengumuman dari penyedia indeks global S&P.

Setelah sebelumnya mendapat sorotan dari indeks global MSCI, kini S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) memasukkan Indonesia ke dalam daftar pantauan (watchlist) terkait potensi penurunan status dari emerging market menjadi frontier market.  

Dalam pengumuman terbarunya, S&P DJI menyebutkan bahwa risiko tersebut berkaitan dengan isu transparansi pasar, sejalan dengan perhatian yang sebelumnya disampaikan MSCI.


Baca Juga: Penerbitan Obligasi Korporasi pada Semester II Diproyeksi Tetap Terjaga

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, pelaku pasar dan investor tampaknya sudah mulai menerima situasi dan kondisi yang ada saat ini. 

Meskipun demikian, penerimaan tersebut bukan berarti mereka bersedia untuk kembali masuk ke pasar saham. Mereka menerima tapi cenderung wait and see terkait dengan situasi dan kondisi yang ada. 

“Terutama ketika para pemangku kepentingan, terlihat tampaknya tidak melakukan apa apa untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang ada,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (8/7/2026).

Di tengah situasi dan kondisi dalam negeri yang tidak kondusif, masalah juga datang dari tensi geopolitik lantaran Amerika Serikat (AS) mulai kembali melakukan serangan. 

“Hal ini yang membuat pasar keuangan Indonesia seakan seperti tidak memiliki cushion untuk menahan itu semua, hal ini yang membuat capital outflow cenderung lebih rentan,” tuturnya.

Memasuki semester kedua ini, target IHSG diproyeksikan akan ada di level 6.390 – 7.470. Sentimen yang mempengaruhi IHSG masih sama seperti sebelumnya. 

Baca Juga: Saham JELI Mentok ARA Dua Hari Beruntun, Dana IPO Difokuskan untuk Inovasi Produk

“Terutama ada tambahan baru lagi potensi turun kelas Indonesia menjadi Frontier Market, yang berpotensi mendorong capital outflow jauh lebih besar, apabila kita tidak melakukan apa pun,” tuturnya.

Dalam kondisi saat ini, Nico pun menyarankan investor untuk memperhatikan kembali tujuan investasi, durasi investasi, dan risk profile dari investor. 

“Apabila suka dengan jangka pendek dan high risk, volatilitas merupakan sebuah kesempatan. Namun, apabila suka dengan jangka panjang, low risk, akumulasi beli merupakan pilihan,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News